Indosat ingin Jaga stabilitas Margin EBITDA

Ilustrasi (Dok)

JAKARTA (IndoTelko) - PT Indosat Tbk (ISAT) ingin menjaga stabilitas dari margin laba sebelum biaya bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) hingga akhir tahun di kisaran 42%-43% dengan mengandalkan layanan value added service (VAS) sebagai salah satu katalis.

Pos EBITDA anak usaha Ooredoo ini menunjukkan penurunan sepanjang semester I 2014 dimana dibukukan sebesar Rp 5,031 triliun atau turun 5,3% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 5,311 triliun. EBITDA marjin juga hanya 43,% turun 2,1% dibandingkan periode sama tahun lalu 45,4%.

Presiden Direktur Indosat Alexander Rusli mengatakan perseroan telah menetapkan acuan margin EBITDA sekitar 42%-43% pada tahun ini. "Cara untuk menjaga margin EBITDA adalah mendorong layanan VAS, seperti mobile advertising. Itu bisa naikkan pendapatan tanpa menambah biaya. Margin VAS itu besar karena berbagi dengan pemilik konten," paparnya.

Tertekan
Lebih lanjut Alex memperkirakan untuk rasio utang (debt to equity/DER) masih akan tertekan hingga akhir tahun ini sekitar 2,1 kali. Hal ini karena perseroan masih memiliki utang obligasi sebesar US$ 650 juta yang jatuh tempo pada 2020 mendatang.

"Kita berupaya menjaga rasio utang sebesar 1,8-2 kali. Namun, kami mungkin sulit untuk capai rasio utang 1,8 kali pada akhir tahun. Karena kami masih ada bonds sebesar US$ 650 juta," ujarnya.

Guna mengakali hal ini, sejak tahun lalu perseroan tidak menjajaki pinjaman baru yang terkait dengan financing dan kegiatan ekspansi. Akses pinjaman baru perseroan sifatnya hanya perpanjangan dan menurunkan biaya bunga.

Berdasarkan laporan keuangan semester I 2014, rasio utang Indosat tercatat 2,1 kali. Total liabilitasnya mencapai Rp 35,8 triliun, sedangkan total ekuitas hanya Rp 16,3 triliun. Namun, rasio utang perseroan di semester I 2014, justru turun dari periode sama tahun lalu yang 2,3 kali.

Penurunan rasio utang Indosat disebabkan oleh menurunnya liabilitas jangka pendek perseroan sebesar 12,3% menjadi Rp 11,8 triliun, dan liabilitas jangka panjang sekitar 1,9% menjadi Rp 24 triliun.

Per 30 Juni 2014, utang Indosat dalam dolar amerika serikat, yaitu obligasi sebesar US$ 650 juta dan pinjaman US$ 245,9 juta. Sementara, utang Indosat dalam mata uang rupiah, terdiri dari pinjaman Rp 4,8 triliun, atau meningkat 56,4% dari semester I 2013, serta obligasi Rp 6,1 triliun.

Untuk menurunkan rasio utang, perseroan berupaya mempercepat pembayaran utang obligasi US$ 650 juta pada awal 2015, meski jatuh temponya masih pada 2020. Targetnya, perseroan ingin utang tersebut dibayarkan maksimum dalam mata uang rupiah dengan porsi 70% pada awal 2015.

Pembayarannya akan dilakukan dengan dua cara. Pertama, perseroan akan menerbitkan obligasi US$ 250 juta pada akhir tahun ini. Pihaknya mengharapkan dapat memperoleh libor di bawah 5%, sebab saat menerbitkan obligasi US$ 650 juta pada 2010, libor-nya masih tinggi, yakni 7,6%. Adapun rencana tersebut telah dilaporkan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Kedua, perseroan sedang mengajukan request for proposal (RFP) pinjaman ke beberapa perbankan yang berbentuk konsorsium sebesar US$ 400 juta. Menurutnya, fasilitas pinjaman perbankan memiliki kelebihan karena cost bunga secara tahunan lebih kecil. Pihaknya menargetkan dapat mengantongi US$ 400 juta pada kuartal IV.

Diperkirakannya, kondisi keuangan Indosat mulai berangsur positif dan dapat diprediksi pada tahun depan. Hal ini karena arus kas keluar Indosat ditargetkan mulai berkurang tahun depan sejalan dengan penyelesaian kegiatan modernisasi jaringan.(ak)