Bentuk Metra Digital Investama, Telkom Ekspansi ke Silicon Valley

Ilustrasi (dok)

JAKARTA (IndoTelko) – PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) tak ingin ketinggalan dalam menggarap ekonomi kreatif berbasis teknologi digital.

Operator pelat merah ini  membentuk Metra Digital Investama yang berfungsi sebagai Corporate Venture Capital (CVC) untuk Telkom Group.

Metra Digital Investama ini berada dibawah Telkom Metra, anak perusahaan Telkom yang fokus mengelola portofolio Information, Media, Edutainment  di Telkom Group.

Program dibawah CVC ini akan memperkuat posisi inkubator bisnis yang sudah berjalan selama ini melalui Indigo yang berlokasi di Bandung Digital Valley dan Jogja Digital Valley.

“Telkom berencana berinvestasi dalam kegiatan CVC senilai US$ 200 juta dengan menggandeng beberapa perusahaan modal ventura (venture capital) di Silicon Valley. Salah satunya adalah Fenox Venture Capital yang berbasis di Silicon Valley, AS,” ungkap Direktur Utama Telkom Arief Yahya, dalam rilisnya.

Fenox Venture Capital dikenal sebagai pemodal ventura yang telah memiliki portfolio investasi di banyak startup dari Silicon Valley dan Asia (Jepang, Korea, dan beberapa negara Asia Tenggara), seperti SideCar, Lark, META, ShareThis, JetLore, 99Co, iMoney, TechInAsia, dan lainnya yang berjumlah lebih dari 37 portfolio perusahaan.

Fenox Venture Capital juga sudah berinvestasi di tanah air dengan BukaLapak.com dan Urbanindo.com. Sampai dengan saat ini, hanya Fenox Venture Capital yang telah menyatakan komitmennya untuk terus berinvestasi di Indonesia.

Selain membawa keahlian Silicon Valley ke Indonesia, Telkom juga akan mengirimkan beberapa startup terbaik dibawah asuhan Indigo untuk mengikuti “immersion program” di Silicon Valley.

Di dalam “immersion program” ini, para startup diajak untuk mengikuti mentorship lebih dalam dari para “startup founders” yang akan memberikan wawasan global kepada startup terbaik.

CIO Telkom Indra Utoyo menambahkan, perseroan ikut dalam aksi CVC, tetapi tidak smeua kebutuhan dana ditanggung oleh perseroan. “Kita akan investasi secara bertahap. Tahap pertama kita alokasikan senilai US$ 25 juta,” ungkap Indra kala dikonfirmasi melalui pesan singkat.

Strategi
Arief memaparkan,  berkembangnya era ekonomi kreatif akan bertumpu kepada lahir dan tumbuhnya entrepreneur yang berbasis talenta, ide dan teknologi atau disebut dengan Teknopreneur.

Seiring perubahan lanskap industri yang dipicu perkembangan teknologi dan gaya hidup, digitalisasi telah mengubah bahkan meruntuhkan tatanan industri informasi dan ekonomi konvensional yang berbasis produksi dan distribusi fisik.

Menjawab tantangan tersebut  Telkom menetapkan strategi  Spesific Mass-customization Aesthetics Reliable Trusted Digital Solution sebagai framework dalam berinovasi dimana fokusnya ada dua yaitu pengembangan digital ecosystem (virtual network) dan physical planet (people network).

Telkom menyadari bahwa kesuksesan inovasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan untuk membuat produk namun juga bagaimana Telkom mampu mengelola talent ataupeople sebagai insan yang berkreasi dan melahirkan produk.

Dua tipe inovasi yang dikembangkan Telkom yaitu yang pertama adalah inovasi yang berasal dari dalam perusahaan yang dilakukan oleh pegawai. Kedua, dilakukan para inovator dari luar perusahaan untuk mengembangkan ide-ide kreatifnya yang diundang oleh Telkom dengan cara memfasilitasi mereka melalui  empat hal utama yaitu memberikan tempat bekerja, dana, mentoring dan akses ke pasar.

Cara ini sebagai bagian implementasi “Mega Thinking” Telkom artinya tidak semua inovasi yang difasilitasi hanya akan digunakan untuk keperluan bisnis Telkom, tetapi lebih dari itu, yaitu Telkom juga ingin mengembangkan industri kreatif digital di Indonesia secara keseluruhan.

“Dengan tujuan secara Mega, kita berharap bahwa pengembangan CVC akan membantu pengembangan industri kreatif nasional yang pada akhirnya mampu berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” jelasnya.

Diharapkannya, secara makro  Telkom berpartisipasi dalam mengakselerasi industri CVC sebagai portofolio investasi digital, menstimulasi terbentuknya ekosistem venture yang berkelanjutan dan membawa mindset Silicon Valley kepada para  Digital Company di Indonesia.

Secara mikro, dengan pembentukan CVC tersebut diharapkan dapat memperkuat  device-network-application dari solusi ecosystem Telkom, menjadi salah satu pilar inovasi Telkom dalam mendapatkan inovasi yang terbaik dan menjadi salah satu cara sumber pendapatan baru melalui capital gain.

Kategori

Rencananya, CVC akan melakukan investasi kepada perusahaan teknologi yang berhubungan dengan strategic fit pertumbuhan bisnis  Telkom  dengan cara mengoptimalkan seluruh kapabilitas dan seluruh sumber daya Telkom Group, termasuk customer-based yang mencapai 150 juta pelanggan.

Aktivitas investasi tidak akan dibatasi pada perusahaan yang berada di Indonesia, tetapi juga akses ke perusahaan-perusahaan yang berada di Silicon Valley Amerika Serikat yang terkenal dengan inovasi dan pertumbuhan yang pesat dengan tujuan membawa best practice industri  ke dalam negeri.

Hal ini pada gilirannya akan membawa dampak yang sangat positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Fakta menunjukkan, bahwa sekitar 21% dari total GDP Amerika Serikat disumbang dari industri digital di Silicon Valley.

Telkom sendiri telah melakukan ekspansi ke 10 negara yakni Singapura, Hong Kong, Timor Leste, Australia, Myanmar, Malaysia, USA, Macau, Taiwan, dan  Arab Saudi. Diharapkan hasil ekspansi berkontribusi sekitar 10% bagi pendapatan perseroan di 2015 mendatang.(id)