Big Data dan Pemilu Indonesia

Ilustrasi (Dok)

JAKARTA (IndoTelko) –  Pemanfaatan Big Data Analytics tidak hanya terjadi di balik data center, namun manfaatnya dapat dirasakan disetiap aspek kehidupan kita.

Salah satunya adalah dalam pemilihan umum yang baru saja dilangsungkan di Indonesia. Banyak sekali data yang dihasilkan terkait pemilu dalam setengah tahun 2014 ini, dan data mentah yang acak ini dapat dikelola menjadi informasi yang bermanfaat, seperti demografi pemilih, kebiasaan online para calon pemilih, kecenderungan politis para calon pemilih, dan lainnya. Informasi-informasi ini dapat membantu para praktisi politik dan pemerintahan dalam banyak hal.

"Bisnis dan organisasi di Indonesia sudah waktunya untuk mulai menyiapkan strategi pemanfaatan analisis Big Data untuk mendukung strategi dan pengambilan keputusan yang tepat. Tidak hanya dalam dunia bisnis, pemanfaatan analisis Big Data yang tepat dapat memberikan dampak positif pada banyak aspek kehidupan kita, salah satunya adalah politik dan pemilu,” kata Country Manager of NetApp Indonesia Steven Law dalam rilisnya, kemarin.

Secara umum Big Data didefinisikan sebagai kumpulan set data yang terlalu untuk dikelola dan diproses dengan tools dan aplikasi yang umum digunakan.

Big Data Pemilu
Di ajang Pemilihan Umum 2014, baik pemilu legislatif dan presiden, politikus, partai politik, dan calon presiden mulai memanfaatkan media sosial sebagai platform untuk berkampanye dan berinteraksi dengan para calon pemilih.

Hal ini mendorong peningkatan lalu-lintas di berbagai platform media sosial yang populer di Indonesia, antara lain Facebook dan Twitter. Per tanggal 7 Juli 2014, halaman Facebook Prabowo Subianto (salah satu dari dua kandidat presiden) memiliki jumlah penggemar sebesar 7.839.525 pengguna dengan 2,7 juta pengguna yang aktif membicarakannya di Facebook.

Untuk halaman Facebook kandidat presiden lainnya, Joko Widodo,  memiliki 3.533.648 penggemar dengan 2,1 juta interaksi.
Di ranah media sosial Twitter, akun resmi Joko Widodo ini berhasil menjaring 1.712.127 follower, dan 984.486 follower untuk akun resmi Prabowo Subianto

Di ajang pemilu tahun ini, para penyedia layanan komunikasi melaporkan peningkatan lalu-lintas yang signifikan di jaringan mereka selama masa kampanye. Telkomsel, XL, dan Indosat merupakan sebagian penyedia layanan komunikasi terbesar di Indonesia, yang melaporkan peningkatan layanan data yang signifikan akibat pemilu.

Di hari pemilu legislatif pada tanggal 9 April 2014 lalu, Indosat melaporkan peningkatan lalu-lintas layanan data sebesar 18,37%, meningkat sebesar 210 Terabyte.

Telkomsel memperkirakan peningkatan lalu-lintas layanan data sebesar 15-25% pada hari pemilihan umum presiden, pada tanggal 9 Juli 2014. Di hari diberlangsungkannya pemilu presiden pada tanggal 9 Juli 2014, Telkomsel melaporkan peningkatan lalu-lintas layanan data sebesar 27,59%, mencapai 665 Terabyte, sedangkan XL melaporkan peningkatan lalu-lintas ,layanan data sebesar 27,7% dari hari sebelumnya, mencapai 425 Terabyte.

Aplikasi dan Games Mobile
Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah merilis daftar pemilih tetap Pemilu Presiden 2014 yang berjumlah 190.307.134 orang, dimana sekitar 20% sampai 30% merupakan pemilih pemula berusia 17 tahun ke atas. Untuk melibatkan para pemilih pemula ini, para politikus, partai, dan kandidat presiden memanfaatkan banyak platform dan kegiatan untuk menjangkau mereka, tidak hanya terbatas pada platform media sosial, salah satu contoh lainnya adalah melalui aplikasi permainan di perangkat mobile.

Kedua tim kandidat pemilu presiden Indonesia ini telah merilis aplikasi permainan mobile, baik untuk platform Android maupun iOS. Sebagian dari aplikasi game tersebut adalah Jokowi GO! yang menampilkan kandidat presiden Joko Widodo, dan Prabowo The Asian Tiger yang menampilkan kandidat presiden Prabowo Subianto.

Kedua aplikasi permainan ini dilaporkan telah diunduh lebih dari 100.000 kali di platform Android sendiri.

Belanja Iklan
Pada bulan Mei 2014, Nielsen melaporkan belanja iklan partai politik dan pemerintahan untuk politik di tahun 2014 meningkat 89% dibandingkan dengan kuartal pertama pada tahun Pemilu 2009.

Pertumbuhan-pertumbuhan data diatas merupakan sebagian gambaran atas banyaknya data mentah yang dihasilkan terkait pemilu di tahun 2014.

Big Data Analytics juga dapat dimanfaatkan untuk perhitunngan proses quick count. Di hari pemilihan presiden pada tanggal 9 Juli 2014, terdapat lebih dari 10 lembaga atau institusi yang melakukan proses quick count, dan menghadirkan hasil yang bervariasi dan kontroversial.

Teknologi Big Data Analytics dapat dimanfaatkan untuk mengelola data-data jumlah suara yang diterima untuk memberikan hasil perhitungan dan analisa yang lebih akurat, efisien, dan cepat.

Pada masa pemilihan presiden di Amerika Serikat pada tahun 2012, Big Data Analytics mulai dimanfaatkan, dan tidak hanya untuk sekedar survei dan polling. Tim kampanye presiden Barrack Obama membentuk tim analis data yang terdiri dari 100 staff analis.

Dengan memanfaatkan berbagai aplikasi dan teknologi untuk big data analytics, tim kampanye Obama ini memanfaatkan Big Data untuk mendefinisikan target pemilih untuk Obama, hobi, ketertarikan, dan kebiasaan mereka, tanggapan mereka terhadap isu-isu kampanye, dan demografi iklan yang akurat dan sesuai target.

Era Big Data di ranah politik India juga telah terlihat di pemilu India tahun ini. Partai Hindu nasionalis BPJ membentuk tim analis data yang terdiri dari 100 orang ahli teknis dan konsultan yang memanfaatkan analisa data untuk memenangkan Narendra Modi.

Melalui analisa data, mereka berhasil mengumpulkan dana, memperbaiki dan memaksimalkan strategi iklan, dan menciptakan model penjangkauan calon pemilih yang lebih akurat dan terarah, termasuk yang menyasar ke kelompok minoritas dan berdasarkan jenis kelamin.(wn)