Dahsyatnya Diplomasi Digital

Ilustrasi (Dok)

Indonesia baru saja sukses menggelar pencoblosan untuk memilih Presiden periode 2014-2019.

Terlepas dari kontroversi yang disajikan oleh lembaga survei melalui Quick Count yang berbeda-beda, ternyata masyarakat Indonesia sudah matang dalam berdemokrasi.

Tak ada gesekan di lapangan. Semuanya ternyata siap untuk menerima kemenangan atau kekalahan. Fenomena yang unik adalah, ternyata perbedaan pendapat disalurkan melalui social media.

Simak saja data yang dilansir Twitter dimana ada hampir 95 juta tweet yang bersiliweran tentang Pilpres dari awal tahun ini sampai hari pemilu.Pada hari pemilihan Presiden terdapat lebih dari 4 juta kicauan.Operator pun menikmati gencarnya diplomasi digital ini dengan kenaikan trafik di layanan data yang hampir dobel digit.

Disinyalir dahsyatnya diplomasi digital dilakukan karena sekitar 30% dari total pemilih, atau lebih dari 52 juta orang, merupakan pemilih pemula pada kelompok usia 18-23 tahun.

Profil dari pemilih ini sangat akrab dengan social media, sehingga tidak mengherankan bilamana partai politik dan politisi menggunakan diplomasi digital agar dapat berhubungan langsung dengan pemilih pemula.

Apalagi, dari hasil survei terbaru yang dikeluarkan  Ooredoo  berjudul New Horizons: Generasi Digital Indonesia menyatakan  sembilan dari 10 anak muda di Indonesia percaya bahwa teknologi menjadi dasar terbentuknya masyarakat modern yang berpikiran maju dan fungsional.

Melihat dahsyatnya diplomasi digital ini semoga pemimpin Indonesia yang akan datang benar-benar memberikan perhatian terhadap ekosistem dunia maya.

Dalam survei Ooredoo dinyatakan pekerjaan rumah terbesar yang harus dibereskan untuk ekonomi berbasis broadband adalah masalah infrastruktur dasar untuk menggelar koneksi internet super cepat yang harus segera dibangun dan meningkatkan adopsi teknologi untuk kesejahteraan masyarakat.

Dua hal ini merupakan pekerjaan utama nantinya dari pemerintahan di masa mendatang. Jangan malah nantinya memikirkan regulasi untuk membatasi kebebasan berpendapat di dunia maya karena khawatir generasi digital menjadi ancaman laten bagi kekuasaan.

@IndoTelko