Saatnya Bersinergi di Uang Elektronik

Para pembicara diskusi e-money di IndoTelko Forum (Dok)

Adopsi uang elektronik (e-money) di Indonesia lumayan membuat miris walau sudah hadir sejak lama.

Padahal, jumlah pemain lumayan banyak dan terdiri atas lintas sektor mulai perbankan, telekomunikasi, dan independen.Di April lalu sekitar Rp 7,7 miliar per hari nilai transaksi, padahal jumlah pemakai sudah mencapai 30,4 juta pengguna.

Dari kajian lembaga Sharing Vision terlihat ada beberapa pemicu tak berkembangnya transaksi berbasis e-money yakni sektor telekomunikasi (Telco) belum mengoptimalkan basis penggunanya, belum ada aplikasi yang bisa membuat pengguna menjadi merasa membutuhkan e-money, tak adanya standarisasi platform.

Terakhir, kepemilikan lisensi tidak dievaluasi ketat oleh Bank Indonesia walau e-money tak menggunakan sumber daya alam terbatas.

Sinergi
Dalam diskusi IndoTelko Forum: ”Collaborative & Incentives: a New Breakthrough for e-Money” di Jakarta, Rabu (11/6), para pemain Telco telah membuka tangan selebar-lebarnya untuk bersinergi dengan pemain bank dan non bank.

Direktur Utama Telkomsel Alex J Sinaga dan Direktur Digital Services XL Axiata Dian Siswarini merasakan selama ini para pemain berjalan sendiri-sendiri sehingga tidak tercapai dua tujuan mulia yakni less cash society dan financial inclusion dalam masyarakat digital.

Tawaran yang kongkrit dilempar Telkomsel ke industri yakni mengadopsi produk Banko di Filipina. Banko ini hasil kolaborasi antara operator dan perbankan melalui anak usaha.

Dalam 9 bulan, Banko berhasil meningkatkan rekening bank 5%-10%, retail loan (1000%), dan transaksi elektronik 53%.

Realistiskah model Banko diadopsi di Indonesia? Jika semangatnya adalah kolaborasi dan sinergi serta ingin mendapatkan efisiensi tentu semua sekat bisa dibuka oleh para pemain untuk membangun ekosistem.

Tetapi, jika semangatnya ego sektoral seperti yang terjadi di bisnis satelit dimana perbankan ikut meluncurkan dan mengelola satelit, rasanya sinergi sesuatu yang basa-basi.

@IndoTelko