M. Awaluddin: Skala itu Menentukan

Muhammad Awaluddin (Dok)

JAKARTA (IndoTelko) – PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) sejak tiga tahun lalu mulai aktif bermain di pasar Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

Bahkan, untuk menunjukkan keseriusannya, dibentuklah Divisi Business Servicess (DBS) dibawah komando Direktur Enterprise and Business Services (EBIS), M. Awaluddin.

Pria berkumis ini pun langsung Go to Market dengan sejumlah produk seperti BosToko dan lainnya. Tak hanya di UKM, Pria dengan tiga orang anak ini pun berinovasi di pasar sekolah dengan IndiSchool dan segmen pemerintahan melalui G-Connect.

Hasil kerja kerasnya untuk pasar UKM memang belum terlihat jika merujuk dari total pendapatan direktorat yang dikelolanya.

Direktorat EBIS di 2012 menghasilkan omzet sekitar Rp  8,7 triliun. Di 2013 naik menjadi Rp 9,25 triliun  dan tahun ini ingin menembus Rp 10 triliun  dengan komposisi segmen korporasi berkontribusi 75%  dan sisanya 25% dari  pasar UKM.

IndoTelko berkesempatan mewawancarai penggemar olahraga basket ini di Hong Kong beberapa waktu lalu untuk mengetahui perkembangan bisnis Telkom di segmen UKM dan lainnya. Berikut kutipannya:

Bagaimana posisi Telkom di pasar UKM?   
Lima tahun terakhir kami menjadi penguasa pasar di segmen korporasi dan UKM dengan  menjaga pertumbuhan bisnis legacy rata-rata sebesar 5%. Kami menyadari  tren life style masyarakat dalam berkomunikasi sudah sangat berkembang dan mengarah terhadap penggunaan kreativitas konten dan aplikasi serta IT services, kita juga mengarah ke sana (new wave).

Pertumbuhan di UKM?
Pertumbuhan yang lebih pesat ditunjukan pada segmen bisnis UKM dimana tumbuh rata-rata 43%. Pasar yang memiliki ruang besar itu ada di UKM. Tidak banyak yang mampu menggarap pasar UKM,  tapi Telkom mampu dan berkewajiban mengembangkan pasar TIK untuk segmen UKM agar tercipta UKM indonesia yang Maju, Mandiri dan Modern.

Apa tantangan mengembangkan pasar UKM?  
Di pasar UKM terdapat dua isu utama yakni masalah penerimaan teknologi baru dan manfaat dari teknologi. Ini tantangannya berat. Telkom belajar lama dan tak menyerah akhirnya bisa menemukan dua kenyataan. Pertama, di pasar UKM itu kita harus bicara skala ekonomi dan kedua pendekatan teritori. Ukuran itu penting jika masuk ke UKM, soalnya disegmen ini banderol layanan murah. Kalau skala ekonomi tidak besar, itu namanya nice to try, lupakan saja.

Secara SDM di Telkom, tantangan masuk ke UKM?
Saya harus mengubah paradigma anak buah yang terbiasa berjualan konektifitas. Ini lumayan berat. Selama ini kan terbiasa berjualan bandwidth setelah itu pergi. Di UKM tidak bisa seperti itu. Kita harus teteni kalau istilah orang Jawa. Kita tinggal, solusi tak dipakai.

Inovasi yang Anda lakukan seperti IndiSchool banyak dianggap mercu suar, benarkah?
Di EBIS itu ada tiga sumber pendapatan. Sustaining revenue, scalling revenue, dan scooping revenue. Sustaining itu dari eksisting, scalling itu kita eksplorasi pendapatan yang ada, scooping itu membuka lahan baru. Saat ini komposisi sustaining revenue di direktorat EBIS sekitar 85%, scalling (10%), dan Scooping (5%). Kalau orang bilang itu pendapatannya kecil, memang mainan baru. Nanti lihat ke depannya. Satu hal lagi, setiap produk yang dikeluarkan itu hasil kerjasama semua unit. Saya ini bagian Go To Market. Jadi, kalau sukses, ini keberhasilan semuanya, bukan Awaluddin seorang.(id)