Skybee Lepas Bisnis Pembayaran Elektronis

Ilustrasi (Dok)

JAKARTA (IndoTelko)  - PT Skybee Tbk (SKYB), melepas bisnisnya di sektor pembayaran elektronis dengan menjual 51% sahamnya di PT Skye Sab Indonesia.

Dalam Keterbukaan Informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), perseroan telah menandatangani kesepakatan jual beli saham dengan PT Saberro Skye Mandiri pada Rabu kemarin.

Perseroan melepas 51% saham Skye Sab yang setara dengan 1.071 lembar saham setara Rp 5,14 miliar. Nilai itu terbilang lebih rendah 57,17% dari nilai pembelian di Oktober 2012 sebesar Rp 12 miliar.
 
Skye Sab selama ini  bergerak di bisnis payment gateway dengan produk e-money bernama Skye Mobile Money. Skye Sab berdiri pada tahun 2008 dan memiliki ijin penyelenggara uang elektronik dari Bank Indonesia. Awalnya menjalankan usaha uang elektronik dengan mendistribusikan kartu Skye Card dan loyalty program.

Pada tahun 2012 beralih menjalankan usahanya via mobile application dengan brand Skye Mobile Money. Ciri khusus Skye Mobile Money adalah program loyalty (poin reward) dan share aplikasi dari pengguna ke pengguna lainnya untuk pendistribusiannya.

Pada november 2013 pengguna  Skye Sab baru sekitar 15 ribu orang dimana sekitar 30% diantaranya aktif bertransaksi rata-rata mencapai Rp 400 ribu per bulan.

Perseroan sejauh ini telah mengeluarkan investasi sekitar US$ 3 juta hingga US$ 4 juta untuk mengembangkan pembayaran berbasis uang digital. Per Maret 2014, total aset Skye Sab tercatat sebesar Rp 3,3 miliar.

Direktur Keuangan Skybee Meiliana Widjaja mengungkapkan, perseroan melepas sahamnya di Skye Sab Indonesia karena menilai kondisi sekarang masyarakat belum siap dengan e-money, sementara investasi harus terus dikeluarkan jika mau bertahan.

"Kinerja Skye Sab tidak mencapai target sehingga sulit bagi kami melanjutkan investasi.Setelah melepas Skye Sab, kami dapat memperkuat struktur keuangan kami. Sedangkan, hasil penjualannya akan meningkatkan kas internal kami,” jelasnya.

Berdasarkan kinerja kuengan 2013, perseroan mencatat pendapatan sebesar Rp 243,3 miliar, turun 27,42%  dari periode tahun sebelumnya Rp 335,2 miliar.

Bisnis media billing berkontribusi terbesar terhadap pendapatan usahanya, yaitu 99,57% atau Rp 242,25 miliar.   

Bottom line perseroan terus minus dimana mencatat rugi bersih tahun berjalan sebesar Rp 4,15 miliar pada 2013, dari laba bersih tahun berjalan Rp 4,7 miliar.(id)