Sinyal Melambat di Kuartal Pertama

Ilustrasi (Dok)

Operator telekomunikasi di Indonesia telah melaporkan kinerjanya selama kuartal pertama 2014.

Telkom bisa dikatakan sebagai bintang dengan membukukan keuntungan sebesar Rp 3,65 triliun sepanjang kuartal pertama 2014 atau naik 4,9% dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp 3,48 triliun.

Pendapatan yang diraih sepanjang kuartal pertama 2014 sebesar Rp 21,25 triliun  naik 8,7% dibandingkan periode sebesar Rp 19,54 triliun.  Laba usaha perseroan menguat tipis 3,4% menjadi Rp 697 miliar.   

Penopang kinerja Telkom masih Telkomsel dimana sepanjang kuartal pertama 2014 mendapatkan pendapatan sebesar Rp 15,289 triliun atau naik 9,8% dibandingkan periode sama 2013 sebesar Rp 13,928 triliun.

Keuntungan yang didapat Telkomsel di periode kuartal pertama 2014 adalah sebesar Rp 4,388 triliun atau naik tipis 2,2% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 4,294 triliun.
Kinerja operator pelat merah ini lebih baik dibandingkan Indosat yang menunjukkan kinerja  stagnan sepanjang kuartal pertama 2014.

Pendapatan usaha Indosat sepanjang kuartal I-14 didapat sebesar Rp 5,773 triliun atau turun 0,3% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 5,788 triliun.

Bahkan, pendapatan seluler yang menjadi andalan  sepanjang kuartal I-14 hanya sebesar Rp 4,65 triliun turun 2,1% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 4,75 triliun.

Indosat  membukukan Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA) sebesar Rp 2,61 triliun  atau turun 0,7% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 2,629 triliun.

Di Bottom Line, anak usaha Ooredoo ini membukukan laba bersih Rp 831,52 miliar, berbanding terbalik dengan periode sama tahun lalu yang mengalami kerugian Rp 40,3 miliar.  

Bottom Line terangkat karena mendapatkan laba kurs sebesar Rp 805,7 miliar berbanding terbalik dengan kondisi rugi kurs di periode sama tahunn lalu sebesar Rp 61,8 miliar.

Masih Payah
Sinyal kepayahan masih dilempar oleh pemain berbasis Code Division Multiple Access (CDMA) seperti Bakrie Telecom dan Smartfren Telecom.

Bakrie Telecom memiliki pendapatan sebesar Rp 390,499 miliar sepanjang kuartal pertama 2014 atau turun dibandingkan periode sama 2013 sebesar Rp 582,497 miliar.

Perseroan menderita kerugian usaha sebesar Rp 65,761 miliar berbanding terbalik dengan kondisi sama tahun lalu yang untung usaha Rp 50,380 miliar.

Namun, disisi bottom line, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 210,7 miliar pada kuartal pertama 2014 , lebih baik dibandingkan periode yang sama di tahun 2013 yang merugi Rp 97,5 miliar.

Pencapaian ini sepertinya didukung oleh keberhasilan perseroan dalam melakukan penurunan beban usaha sebesar 14% dan mendapatkan keuntungan dari kurs sebesar Rp 440,119 miliar. 

Manajemen Bakrie Telecom pada bulan  Mei ini harus berfikir keras untuk membayar utang jatuh tempo yang lumayan besar. Bisa dipastikan ini akan membebani bottom line nanti hingga akhir tahun nanti.

Segendang sepenarian, Smartfren memang berhasil mencicipi keuntungan memasuki kuartal pertama 2014.
Smartfren berhasil membukukan laba bersih sepanjang kuartal pertama 2014 sebesar Rp 1,11 miliar berbanding terbalik dengan kondisi sama tahun lalu yang menderita kerugian Rp 355,582 miliar.

Penopang bottom line berasal dari keuntungan kurs sepanjang kuartal pertama 2014 sebesar Rp 407,508 miliar berbanding terbalik dengan kondisi sama tahun lalu dimana rugi kurs sebesar Rp 7,409 miliar.

Dari sisi operasional, Smartfren masih kepayahan Hal itu terlihat dimana sepanjang  kuartal pertama 2014 perseroan mencatat  pendapatan sebesar Rp 722,88 miliar atau naik  29,79%  dibandingkan periode sama tahun lalu yang Rp 556,97 miliar. 

Perseroan masih menderita rugi usaha senilai Rp 287,5 miliar. Angka ini sudah turun 11,28% dibandingkan rugi bersih  di kuartal I 2013 yang tercatat Rp 324,05 miliar.

Kinerja dari operator di kuartal pertama ini menjadi sinyal melambatnya pertumbuhan industri seluler nasional tahun ini. Bisa dikatakan operator tak mencicipi berkah dari adanya pesta demokrasi, tetapi justru bergulat untuk selamat dari tekanan makro ekonomi.

@IndoTelko