Telenovela di Angkasa

Ilustrasi (dok)

Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) akhirnya memutuskan  slot orbit 150,5 derajat Bujur Timur (BT) dikelola PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mulai 1 September 2015.

Peristiwa ini bisa menjadi pukulan bagi Indosat yang selama ini mengelola slot orbit itu.

Sejarah menyatakan, nama Indosat, tak bisa dipisahkan dari bisnis satelit. Bahkan, dulunya Indosat selalu dikonotasikan sebagai Indonesian Satellite.

Apalagi, perusahaan ini mengelola dua slot orbit yakni slot 113° BT dan 150,5 BT. Apakah Indosat masih kompetitif menjalankan bisnis satelit dengan hanya memiliki satu slot orbit?

Jika merujuk kepada kinerja dari Indosat selama ini, bisnis satelit memang hanya berkontribusi secuil bagi perseroan.
Tetapi, sebagai perusahaan telekomunikasi dengan lisensi terlengkap, lepasnya slot orbit bukan masalah bisnis, tetapi kebanggaan menjadi berkurang.

PR
Masuknya BRI sebagai pengelola slot orbit pun akan memberikan Pekerjaan Rumah (PR) bagi pemerintah dan bank pelat merah itu sendiri.

Pasalnya, kebutuhan BRI hanya sebagian dari total transponder yang akan dibawa satelitnya nanti. Sisa transponder yang dibawa satelit BRI tak bisa dikomersialkan karena izin yang dimiliki Telekomunikasi Khusus (Telsus).

Belum lagi BRI harus membangun stasiun bumi nantinya untuk mengelola satelit dan membereskan masalah teknis terkait ukuran parabola yang digunakan untuk melayani ATM-nya.

PR yang tersisa bagi BRI dan kabar tentang Indosat yang masih  berupaya  mempertanyakan lepasnya slot orbit ibarat telenovela tak berujung bagi slot orbit 150,5 BT.

Solusinya, kedua perusahaan harus segera mencari titik temu demi kepentingan lebih besar agar sumber daya alam terbatas itu bisa dimaksimalkan.

@IndoTelko