Tarik Ulur Investasi Foxconn di Indonesia

Ilustrasi (Dok)

Nama Hon Hai Precision Industry Co Ltd atau lebih dikenal dengan Foxconn sudah dua tahun belakangan ini bersiliweran di pemberitaan media teknologi Indonesia.

Manufaktur asal Taiwan ini adalah mitra dari Apple untuk membuat beberapa produknya, seperti iPhone dan iPad. Merek lainnya yang mempercayakakan produksinya ke Foxconn adalah Sony, Nokia, dan BlackBerry.

Foxconn adalah eksportir terbesar di China dan eksportir terbesar kedua di Republik Ceko. Indonesia sudah sejak dua tahun lalu menggoda Foxconn untuk berinvestasi di tanah air.

Foxconn berencana menanamkan modal antara US$ 5 miliar sampai US$ 10 miliar untuk membangun pabrik komponen  di  atas lahan  seluas 500 hektare (ha). Untuk tahap awal dalam periode 3-5 tahun perseroan akan berinvestasi  sekurang-kurangnya US$ 1 miliar

Pada medio Februari 2014 ada angin segar dari rencana Foxconn dimana akhirnya memutuskan Jakarta untuk menjadi basis produksinya di Indonesia. Manufaktur ini menandatangani kesepakakatan kerjasama dengan dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. 

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kabarnya akan memfasilitasi untuk persiapan investasi Foxconn di Jakarta. Mulai dari perizinan hingga menyediakan lahan untuk Foxconn. Kabarnya lahan yang dibutuhkan sekitar  200 hektar. 

Tahap awal akan disediakan di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) sekitar  20 hektar. Izin prinsip dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pun kabarnya telah  diterbitkan. 

Harusnya,  setelah memperoleh izin prinsip, Foxconn bergerak lebih maju jika benar ingin berinvestasi di Indonesia. 
Namun, kabar terbaru lumayan menyesakkan. BlackBerry Jakarta yang kabarnya diproduksi Foxconn, ternyata sudah masuk tahap komersial akhir bulan ini. Artinya, realisasi investasi di Indonesia  kembali molor.

Pemerintah tak bisa sepenuhnya disalahkan dengan molornya realisasi investasi dari Foxconn ini. Jika dilihat secara fair, pemerintah sudah berusaha maksimal, bahkan terkesan memberikan karpet merah bagi manufaktur ini.

Hal yang harus dicermati adalah sebenarnya bagaimana jalinan komunikasi yang dibangun Foxconn dengan calon mitranya? Benarkah Foxconn terlalu banyak meminta keistimewaan, sehingga sulit dipenuhi? 

Jika kabar ini benar adanya, tak ada salahnya pemerintah lebih memberikan keistimewaan kepada manufaktur lokal yang benar-benar serius membangun pabrik ponsel di tanah air dan melupakan saja janji-janji manis dari Foxconn.

@IndoTelko