CDMA Nan Kian Merana

Ilustrasi (Dok)

Industri seluler di Indonesia selama Desember 2013 ramai memperbincangkan nasib dari para pemain berbasis teknologi Code Division Multiple Access (CDMA).

Di Indonesia terdapat lima operator berbasis teknologi CDMA yakni Telkom dengan Flexi, Indosat dengan StarOne,  Ceria milik  PT Sampoerna Telekomunikasi, Smartfren, dan Bakrie Telecom.

Tiga  operator memiliki frekuensi di 850 MHz, sementara Ceria di 450 MHz. Sedangkan Smartfren memiliki frekuensi di 1.900 MHz dan 850 MHz.

Perbincangan tentang nasib dari pemain CDMA yang menghangat tak bisa dilepaskan dari keinginan Telkom dan Indosat yang memilih hengkang dan fokus pada teknologi GSM.

Rencananya, E-GSM akan menjadi pilihan jika frekuensi yang ditempati oleh Flexi dan StarOne bisa digunakan oleh produk seluler keduanya.

Sinyal dari pemerintah sepertinya meloloskan keinginan dari keduanya mengingat kabarnya ujicoba akan digelar Telkomsel nantinya selama tiga hingga enam bulan di Papua. Jika pun ada halangan, hanya masalah regulasi karena frekuensi tak bisa dialihkan mengingat entitas Telkomsel dan TelkomFlexi berbeda.

Peluang besar sebenarnya ada pada Indosat, dan seharusnya jika pemerintah benar-benar ingin melihat bisakah dua teknologi hidup berdampingan serta ingin mengetahui aspek pasar, anak usaha Ooredoo ini lebih layak diloloskan untuk ujicoba E-GSM terlebih dulu.

Hal ini mengingat entitas StarOne dan Indosat dalam satu bendera sehingga konflik regulasi bisa diminimalisir.

Tak Tentu
Hal yang menarik adalah jika dua operator besar sudah menetapkan ingin keluar dari teknologi CDMA, dua pemain lapis kedua, Smartfren dan Bakrie Telecom, masih menyakini bisa tumbuh.

Simak aksi Smartfren yang masih optimistis dengan pasar dan memberikan sinyal akan terus menggenjot penjualan produk bundling pada tahun depan. Padahal, Smartfren memiliki Pekerjaan Rumah (PR) besar, yakni membalikkan rugi usaha menjadi laba usaha, serta kerugian menjadi keuntungan.

Pasalnya, hingga sekarang perusahaan ini terus rugi walau pendapatannya terus naik.

Apa benar masih ada ruang untuk pemain CDMA? Jika kita melihat kinerja dari Bakrie Telecom dengan merek dagang esia, sudah seharusnya para punggawa di bisnis ini bersifat realistis.

Esia pada 2011 tercatat masih memiliki 14,64 juta pelanggan, 2012 turun menjadi 11,6 juta pelanggan, dan hingga September 2013 menjadi 11,44 juta pelanggan. Di sisi pendapatan pada 2011 sebesar Rp 3,195 triliun, pada 2012 turun menjadi 2,97 triliun, dan hingga September 2013 kembali turun menjadi Rp 1,878 triliun.

Memang, Smartfren terus menunjukkan pertumbuhan dari sisi pelanggan dan pendapatan. Tercatat pada 2011 memiliki 7,6 juta pelanggan, 2012 (8,5 juta pelanggan) Q3-13 (11 juta pelanggan). Sedangkan pendapatan pada 2011 sebesar Rp 954 miliar, 2012 (Rp 1,64 triliun), dan Q3-13 9 (Rp 1,75 triliun).

Secara realistis, angka-angka operasional ini menunjukkan para pemain CDMA akan susah membalikkan keadaan mengingat 95% pangsa pasar sudah dikuasai oleh pemain GSM.

Bahkan, jika dilihat Axis yang bisa meraup pendapatan rata-rata Rp 3 triliun per tahun saja, berakhir dengan lempar handuk karena harus menanggung rugi sekitar Rp 3,2 triliun setiap tahun.

Alhasil, sudah saatnya  para pemain CDMA yang tersisa untuk memikirkan secara matang  aksi konsolidasi dan pemerintah harus memberikan stimulus yang bisa mendorong terjadinya aksi korporasi ini.

Konsolidasi yang paling realistis semua frekuensi dikembalikan ke pemerintah, setelah itu bersama-sama membentuk konsorsium baru untuk mengelola frekuensi dan menjalankan Long term Evolution (LTE).

Langkah ini diyakini bisa diterima oleh semua pemain karena entitas yang ada sekarang tetap eksis untuk menyewa kapasitas ke konsorsium baru itu.

Memaksakan aksi Merger & Akuisisi (M&A) ala XL dan Axis rasanya tak masuk akal, karena entitas yang tersisa memiliki utang segunung, sehingga tak akan ada kemampuan finansial untuk merealisasikan.

Skema ini harus secepatnya dimatangkan oleh pemerintah jika benar menginginkan kompetisi sehat di industri seluler mengingat para pemain lapis kedua tetap dibutuhkan di Indonesia.

Pasalnya, jika tiga besar GSM dibiarkan menguasai pasar tanpa penyeimbang, bisa saja terjadi oligopoli yang berujung pada kerugian di masyarakat.

@IndoTelko