Bijak Menghadapi Penyadapan

Ilustrasi (Dok)

Ranah politik Indonesia belakangan ini dihebohkan isu penyadapan yang dikabarkan oleh situs harian The Australian.

Dalam situs tersebut dikabarkan pemerintah Australia menyadap satelit Palapa milik Indonesia. Satelit ini dimiliki oleh Indosat yang 65% sahamnya dikuasai Ooredoo.

Sayangnya, di situs itu tak disebutkan tipe satelit Palapa yang disadap mengingat Indosat memiliki satelit Palapa C-2 dan Palapa D. Palapa C-2 sudah habis nilai ekonomisnya, sementara Palapa D masih beroperasi secara ekonomis dan fungsional.

Pihak yang diduga menyadap adalah Australian Signals Directorate (ASD), salah satu direktorat di Kementerian Pertahanan Australia yang bertanggung jawab atas signals intelligence (SIGNIT).Informasi mengenai penyadapan satelit ini diungkap Des Ball, professor dari Australian National University's Strategic and Defence Studies Centre.  

Sebelum mencuat soal penyadapan satelit Palapa, surat kabar Australia Sidney Morning Herald pada 29 Oktober 2013 juga mengabarkan adanya penyadapan yang dilakukan pemerintah AS terhadap pemerintah Indonesia. Bukan hanya Jakarta, AS juga disebut-sebut menyadap semua negara di Asia Tenggara lainnya.

Informasi yang berasal dari Edward Snowden intelijen AS itu menyebutkan  cara penyadapan selama ini melalui Singapore Telecom (SingTel), operator telekomunikasi milik Pemerintah Singapura yang juga menguasai 35% saham Telkomsel.

SingTel kabarnya memanfaatkan kabel serat optik bawah laut yang menghubungkan Asia, Timur Tengah dan Eropa (SEA-ME-WE) untuk melakukan penyadapan ke Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. SEA-ME-WE-3 merupakan kabel serat optik telekomunikasi bawah laut yang selesai pada tahun 2000 dengan panjang 39.000 km.

Praktik penyadapan yang dilakukan untuk memanen data dari email, pesan instan, telepon password dan sebagainya, dilakukan dari lalu lintas data melalui kabel serat optik bawah laut  berkode sandi TEMPORA ini disebut-sebut sudah berjalan hingga 15 tahunan.TEMPORA merupakan program intersepsi yang dimotori Inggris melalui Government Communications Headquarters (GCHQ).

Tak hanya itu, Snowden juga mengungkapkan National Security Agency (NSA) Amerika Serikat telah menyusup ke dalam perusahaan telekomunikasi besar Cina dan raksana internet, Pacnet. Perusahaan ini tadinya sempat dilirik oleh Telkom untuk diakuisisi, namun batal.

Isu Lama
Jika melihat informasi yang beredar tersebut dapat dikatakan isu penyadapan antar negara hal yang biasa terjadi dalam politik luar negeri. Jangankan antar negara, ke warga negara sendiri bisa terjadi penyadapan, bukan?

Lantas bagaimana cara menaggapi aksi penyadapan ini? Menyiapkan teknologi anti penyadapan itu sudah hal yang pasti dilakukan negara.

Namun, hal lain yang diingat adalah  secanggih apapun teknologi enkripsi atau persandian selama semua komunikasi tersebut masih ditransmisikan melalui ranah publik atau jejaring yang bisa diakses oleh teknologi buatan manusia, maka tetap akan bisa di sadap  pihak lain dengan menggunakan teknologi setara.

Nah, jika demikian tentu sudah saatnya pemerintah memahami menyikapi kondisi ini dengan menempatkan pejabat yang sesuai pada bidang dan kewajibannya dengan pertanggungjawaban akan tugas pokok dan fungsinya, bukan sekadar mengerti teknologi semata.

Selain itu, wacana adanya angkatan kelima alias cyber army di Indonesia sepertinya patut dipertimbangkan mengingat di masa depan, perang sebenarnya itu di akses terhadap informasi. Jika hal ini tak dilakukan, maka Indonesia akan terus kedodoran dalam perang berbasis teknologi informasi.
 
@IndoTelko