Penetrasi 3G Belum Optimal

Ilustrasi (DOK)

JAKARTA (IndoTelko) – Penetrasi teknologi 3G di Indonesia belum optimal walau operator telah berhasil melakukan migrasi blok 3G di 2,1 GHz dan menempatinya secara berdampingan.

“Penetrasi teknologi 3G di Indonesia belum merata. Penetrasinya baru sekitar 30% dari total populasi yang ada,” ungkap Direktur Penataan Sumber Daya Kemenkominfo Titon Dutono, kemarin.

Tidak meratanya penetrasi teknologi 3G bisa terlihat dari data hasil migrasi blok 3G  dimana operator Tri memiliki wilayah 3G di 22 provinsi, Indosat (18 provinsi), XL (30 provinsi), Axis (14 provinsi), dan Telkomsel (33 provinsi).

Jika melihat dari pangsa pasar layanan 3G di pasar, saat ini Telkomsel menguasai pangsa pasar sekitar 42%, Indosat (16,7%), XL Axiata (15,9%), Hutchison 3 Indonesia (Tri) 5,4 %, dan Axis (2,1%).

Menurut Country Manager Qualcomm Indonesia Bernhard Siagian keberadaan 3G harus dioptimalkan sebelum melangkah ke teknologi 4G alias Long Term Evolution (LTE) mengingat  pemanfaatannya masih rendah di masyarakat.
 
"Proses menuju 4G itu butuh edukasi. Saat ini untuk 3G ekosistemnya sudah mulai matang dengan adanya jaringan lebih baik dan perangkat yang lebih terjangkau. Baiknya ini dioptimalkan terlebih dulu,” katanya.

Siap LTE
Hal yang menarik adalah ditengah masyarakat tengah mulai menerima adanya 3G, operator dan pemerintah tengah merancang untuk melompat ke LTE.

Sinyal itu dilempar  Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring dimana berencana membuka peluang bisnisnya pada akhir 2013.

Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemenkominfo Gatot S Dewa Broto menambahkan, peluang bisnis yang dimaksud ialah menyusun rancangan peraturan menteri (RPM) terkait LTE. Kemenkominfo hanya bertindak sebagai pembuat regulasi sedangkan teknis bisnis sepenuhnya ada pada masing-masing operator.

"Kalau industri mendesak untuk LTE,  kita siapkan. Diharapkan bulan berikutnya November penyusunan materi RPM LTE," katanya.

Ide menggulirkan LTE ini sah-sah saja, namun pemerintah sepertinya memiliki pekerjaan rumah yang harus diselesaikan yakni mengalokasikan frekuensi yang ideal dan membuka sekat pembatasan teknologi untuk para pemain agar bisa melayani pelanggan 2G, 3G, dan 4G secara optimal.

Saat ini posisi frekuensi yang dimiliki kelima operator itu dalam menyelenggarakan mobile broadband adalah Telkomsel sebesar 7,5 MHz di pita 900 MHz, 22,5 MHz di 1800 MHz, dan 15 MHz di 2,1 GHz.

Indosat sebesar 10 MHz di 900 MHz, 20 MHz di 1800 MHz, dan 10 MHz di 2,1 GHz. XL sebesar 7,5 MHz di 900 MHz dan 1.800 MHz, dan 15 MHz di 2,1 GHz.
Sementara Tri memiliki 10 MHz di 1800 MHz dan 2,1 Ghz. Axis 15 Mhz di 1.800 Mhz dan 10 MHz di 2,1 GHz.

Dari data tersebut terlihat alokasi spektrum untuk menggelar mobile broadband tak berimbang, padahal kebutuhan bandwidth dimasa depan kian besar. Komposisi yang ada sekarang, terdapat operator yang hanya mempunyai capacity band, tetapi ada juga yang memiliki capacity dan coverage band sekaligus.

Hal yang harus dipahami adalah jika operator menjalankan LTE, maka frekuensi akan terpaksa didedikasikan untuk data, sedangkan layanan suara akan diambil alih oleh 3G atau 2G.
 
Seandainya, operator GSM di Indonesia menjalankan LTE di 1.800 MHz, tentunya masalah alokasi frekuensi ini mendesak di-rebalancing terlebih dulu agar kualitas layanan tak menurun.

Rebalancing alokasi spektrum frekuensi dapat dilakukan dengan mengacu pada  tingkat agresivitas penggelaran jaringan dari para operator eksisting dan menjadikannya dasar untuk melakukan redistribusi alokasi spektrum frekuensi.

Jika ini tak dilakukan, maka pelanggan dipastikan sulit merasakan secara ideal layanan mobile broadband.(id)