Kinerja Masih Buruk, Rating Indosat Tetap Stabil

Ilustrasi (DOK)

JAKARTA (IndoTelko) – PT Indosat Tbk (Indosat) boleh saja masih menjalani kinerja keuangan yang buruk hingga semester pertama 2013 dengan mengalami kerugian Rp 231,2 miliar meningkat 28,1% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp180,5 miliar.

Namun, di mata lembaga pemeringkat Moodys, kinerja dari anak usaha Ooredoo ini sudah sesuai harapan dan tetap menyematkan rating Ba1 dengan outlook stabil.

Menurut Assistant Vice President dan Analyst Moodys Yoshio Takahashi jika dilihat dari pertumbuhan pendapatan hingga semester pertama 2013, Indosat mengalami yang tertinggi di industri telekomunikasi Indonesia.

Untuk diketahui, Indosat selama semester I-2013 meraih pendapatan Rp 11,708 triliun atau naik  14,2% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 10,25 triliun.

Namun, jika dilihat pertumbuhan per kuartal, Indosat paling rendah dibandingkan Telkomsel dan XL.

Indosat di kuartal kedua 2013  hanya meraih pendapatan Rp 5,9 triliun atau naik 2,3% dibandingkan kuartal I-2013 sebesar Rp 5,7 triliun.

Layanan seluler yang menjadi mesin utama pendapatan selama kuartal pertama 2013 hanya meraih pendapatan Rp 4,8 triliun naik 1,5% dibandingkan kuartal pertama 2013 Rp 4,7 triliun.

Bandingkan dengan Telkomsel yang mencatat pendapatan tumbuh  4,4% dari Rp 13,92 triliun di kuartal I-13 menjadi Rp 14,5 triliun di kuartal kedua 2013. Sedangkan XL pendapatan per kuartal  tumbuh  sekitar 5% yakni dari Rp 5,022 triliun di kuartal pertama 2013 menjadi Rp 5,269 triliun di kuartal kedua 2013.

Pertumbuhan tipis juga dialami dari pertambahan pelanggan baru seluler Indosat jika dilihat perkuartal yakni 56,5 juta nomor di kuartal kedua 2013 naik 0,9% dibandingkan periode kuartal pertama 2013 sebanyak 55,9 juta pelanggan.

Sedangkan Average Revenue Per User (ARPU) naik 3% dari Rp 26.600 menjadi Rp 27.300 di semester pertama 2013.

Walau pertumbuhan pendapatan tinggi, tetapi marjin Earning Before Interest Tax Depreciation and Amortization (EBITDA) turun dari 47,3% di semester pertama 2012 menjadi 45,4% di semester pertama 2013 karena belum optimalnya omzet dari layanan data yang diikuti biaya operasional masih tingggi.
 
Dalam waktu satu hingga dua tahun ke depan Moodys memperkirakan marjin Indosat akan berkontraksi moderat karena naiknya pendapatan dari layanan data.

Hingga semester pertama 2013 Indosat telah menyerap sekitar Rp 5,4 triliun belanja modalnya untuk modernisasi jaringan. Tahun ini belanja modal Indosat diperkirakan mencapai Rp 8 triliun. Angka ini diperkirakan akan sama dalam dua tahun mendatang karena kebutuhan memperluas jaringan 3G.

"Belanja modal yang 3G untuk 3G akan menekan matriks arus kas, tetapi sepertinya ini coba diakali manajemen Indosat dengan topangan dana pengembangan jaringan mengandalkan dari arus kas operasi,” katanya.

Hingga Juni 2013, kas yang dimiliki Indosat sekitar Rp 1,8 triliun. Hingga akhir tahun ini diperkirakan cash flow dari operasional sekitar Rp 7,5 triliun- Rp 8 triliun. Dana ini akan dialokasikan sebagaian memperkuat belanja modal dan membayar utang jatuh tempo tahun ini sekitar Rp  4,8 triliun.

Sebelumnya, Direktur Keuangan Indosat Stefan Carlson mengungkapkan, pemicu kerugian yang dialami Indosat karena kerugian kurs dan biaya depresiasi yang besar karena dipercepatnya masa penyusutan peralatan.(id)