Menjaga Kebersamaan demi Masa Depan

Para pembicara diskusi 4G: New Tech, New Services, New Needs. (DOK)

IndoTelko bekerjasama dengan Ketua Komite Tetap (Komtap) Kadin Bidang Telekomunikasi, Johnny Swandi Sjam, pada Kamis (14/3) lalu kembali menggelar seri diskusi awal tahun. Kegiatan yang telah masuk usia ke-5 itu kali ini mengambil tema 4G: New Tech, New Services, New Needs.

Tema ini sengaja diambil karena dianggap tahun ini adalah waktu yang tepat untuk mulai mendesak pemerintah dan operator secara lebih serius menggarap teknologi 4G mengingat masyarakat sudah makin haus dengan jasa data.
 
Acara tersebut menghadirkan Welcome Speech dari  Johnny, Keynote Speech dari Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos Informatika (SDPPI) Kementerian Kominfo Muhammad Budi Setiawan.

Sedangkan para pembicara adalah Direktur Network  Telkomsel, Abdus Somad Arief, Presiden Direktur dan CEO Indosat Alexander Rusli, President Direktur dan CEO XL Axiata, Hasnul Suhaimi, CTO Smartfren Merza Fachys, Vice President Region SEA & Oceania Ericsson Fadi Pharaon, dan Anggota Komite BRTI M.Ridwan Effendi.

Dalam paparannya, semua pihak  menyadari  kebutuhan jasa data semakin meningkat di masyarakat. Kendala dalam penggelaran teknologi 4G secara teknis adalah pilihan frekuensi yang digunakan.  Sedangkan dari kacamata keuangan adalah masalah model bisnis yang dipilih.
 
Dari sisi frekuensi, diakui spektrum 700 MHz menjadi pilihan utama karena di posisi yang ideal dalam memberikan jangkauan serta kapasitas.    

Frekuensi 700 MHz dipercaya memberi kemampuan jangkauan paling luas jika dihitung dari pemanfaatan base station di setiap 10km persegi. Dari sisi ekosistem  perangkat juga  sudah banyak yang mendukung frekuensi 700MHz.

Di Asia Pasifik, tercatat ada 66 operator seluler yang sudah mengadopsi LTE. Frekuensi yang paling banyak digunakan adalah 2.100MHz, 700MHz, 2.600MHz, dan 1.800MHz.

Kendalanya, di Indonesia frekuensi ini masih digunakan oleh TV analog. Pemerintah sedang melakukan program digitalisasi televisi, yang nantinya akan menghapus televisi analog. Program ini akan selesai paling cepat di akhir 2017.

Dari program digitalisasi televisi itu, nanti frekuensi 700MHz akan memiliki digital dividend sebesar 112MHz. Nah, rentang pita sebesar 112MHz di frekuensi 700MHz itulah, yang akan digunakan untuk alokasi jaringan LTE di Indonesia. Agar jaringan LTE bisa optimal, alokasi yang dibutuhkan minimal 20MHz.
 
Solusi
Solusi sementara diusulkan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) jika memang semua pemain sudah bernafsu menggelar 4G berbasis Long Term Evolution (LTE). Hal itu adalah mendorong konsolidasi di frekuensi 850 MHz adalah salah satunya.

Konsep sederhananya adalah, tanpa menghilangkan entitas dari pemain di 850MHz, frekuensi yang ada di konsolidasikan dan dikelola oleh satu konsorsium. Konsorsium jaringan ini nantinya menjual bandwidth kepada para pemain jasa.

Secara teori, ide ini memang realistis. Pasalnya ada 20 MHz frekuensi yang lumayan ideal untuk LTE. Kendalanya adalah di masalah cara menilai kontribusi masing-masing entitas.

Harap diingat, para pemain Code Division Multiple Access (CDMA) semuanya dalam keadaan berdarah-darah, seandainya dikonsolidasikan, penilaiaan aset dan utang bukanlah pekerjaan gampang.

Namun, wacana ini disambut gembira oleh semua operator asalkan aturan mainnya jelas sehingga tak berujung pada kriminalisasi kala dijalankan.

Tak hanya di situ, dalam mengatasi kendala perluasan backhaul dan akses, operator pun mendorong pemerintah menghadirkan regulasi yang jelas untuk berbagi penggunaan active network misalnya, memakai  serat optik  dan radio secara bersama.

Semangat kebersamaan ini muncul karena semua operator menyadari dalam menghadapi era data, musuh itu tak hanya antar sesamanya, tetapi juga dari Over The top (OTT) yang didukung lembaga keuangan dengan modal kuat.

Semua pihak sudah membuka diri, sekarang kita tinggal menunggu realisasi dari wacana  demi masa depan jasa data yang lebih baik di Indonesia.

@IndoTelko.com