Penguasa Mempertahankan Singgasana

Ilustrasi (DOK)

JAKARTA (IndoTelko) – Telkomsel berhasil mempertahankan singgasananya di pasar seluler nasional selama 2012.

Pencapaian anak usaha Telkom ini terasa manis di 2012, karena untuk pertama kalinya setelah dua tahun berturut-turut mencatat pertumbuhan tak sesuai harapan pasar, berhasil melampaui semua prediksi.
 
Direktur Utama Telkomsel Alex J Sinaga mengungkapkan, perseroan  selama 2012 mendapatkan pendapatan sebesar Rp 54,53 triliun atau naik 12% dibandingkan 2011 sebesar Rp 48,73 triliun.

“Perolehan itu diatas harapan pasar yang memprediksi Telkomsel tumbuh 10,6% pendapatannya,” katanya.

Sedangkan keuntungan yang diraih perseroan selama 2012 sebesar Rp 15,72 triliun  atau naik 23% dibandingkan 2011 sebesar Rp 12,82 triliun.

Earning Before Interest Tax Depreciation and Amortization (EBITDA) Telkomsel pada 2012 mencapai Rp 30,56 triliun atau naik 11% dibandingkan 2011 sebesar Rp 27,55 triliun. EBITDA margin turun tipis 0,5% dari 56,5% di 2011 menjadi 56% di 2012.

Aset dari penguasa seluler ini mencapai Rp 62,92 triliun atau naik 7% dibandingkan 2011 sebesar Rp 58,72 triliun.

Jika dibandingkan diantara 3 besar yakni Telkomsel, Indosat, dan XL, dari sisi Topline, pertumbuhan Telkomsel hanya bisa dikalahkan XL Axiata yang mengalami kenaikan pendapatan 15%. Namun, dari sisi bottom line, pertumbuhan Telkomsel paling tinggi yakni 23%. XL mengalami penurunan 2%, sementara Indosat terjun bebas di 52,5%.

Alex mengungkapkan, total pelanggan yang dimiliki  Telkomsel selama 2012 sebanyak  125.1 juta nomor. Terdiri atas  2.1 juta nomor pascabayar dan 123 juta nomor prabayar. Sedangkan Average Revenue Per User (ARPU) campuran sebesar Rp 37 ribu atau turun 5,1% karena resiko menggarap pasar low end dan fenomena multi sim card di pasar.

“Jumlah pelanggan Telkomsel mencerminkan penguasaan pasar sebesar 45% atau naik 2% dibandingkan tahun 2011 yang 43%,” jelasnya.

Dalam info meo laporan keuangan Telkom terlihat jasa prabayar Telkomsel meraup pendapatan sebesar Rp 45 triliun atau naik 13,4%.  
 
Sedangkan pendapatan interkoneksi dan international roaming pada 2012 sebesar Rp 4,4 triliun naik  13.6% karena berubahnya penagihan SMS ke berbasis interkoneksi sejak Juni 2012.
 
Fokus Data
Pada kesempatan lain, Division Head, Device Bundling & Customization Strategy Telkomsel Arief Pradetya mengungkapkan, pada tahun ini perseroan akan  menggenjot jasa data dengan harapan bisa berkontribusi hingga 20%  bagi total omzet 2013.

“Telkomsel secara pelan-pelan bergeser dari operator berbasis suara menjadi data. Karena itu pada tahun ini BTS baru yang dibangun dominan adalah 3G. Kita maunya jasa data berkontribusi dari 15%  pada 2013, menjadi 20%  di tahun ini bagi total omzet,” ungkapnya.

Diungkapkannya, jasa data pada tahun lalu mengalami pertumbuhan sebesar 50%  dengan ditopang 54 juta pengguna data dari 125 juta pelanggan. Diantaranya terdiri dari  11 juta pelanggan Telkomsel Flash dan  5.8 juta pengguna BlackBerry.

“Kami optimistis jasa data akan  menjadi mesin pertumbuhan baru karena di jaringan itu ada potensi pengguna data yang belum terutilisasi,” jelasnya.

Diungkapkannya, di jaringan Telkomsel sebenarnya ada 113 juta perangkat yang terdaftar dimana  66 juta diantaranya siap mengakses data. “Kalau sekarang baru sekitar 54 juta pengguna data, artinya ruang untuk bergerak itu masih luas,” katanya.

Rencananya, tahun ini Telkomsel  akan membangun 15 ribu BTS dimana 70 persen merupakan Node B atau 3G. Pada 2012 Telkomsel memiliki 54.297 unit BTS, dimana 15,433 unit merupakan  Node B.
   
“Jika semakin banyak kami membangun Node B, itu akan lebih mempercepat Return Of Investment (ROI). Pasalnya, dari sisi perangkat dan aplikasi itu sekarang tren di 3G. logikaya, jika skala ekonomi besar, tentu menguntungkan bagi Telkomsel. Karena itu kita juga ingin ekosistem digital di Telkomsel itu naik dari 1,6%  menjadi 2,3%,” katanya.

Secara terpisah, Direktur Eksekutif Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala mengapresiasi kinerja yang diraih Telkomsel setelah beberapa tahun lalu selalu gagal mencapai target yang ditetapkan.

“Kita harus apresiasi. Tetapi taruhannya adalah tahun ini karena pesaingnya sudah mulai selesai pembangunan infrastruktur data. Tahun lalu operator bisa tumbuh dobel digit di sisi pendapatan karena pasar tidak ribut alias perang mereda. Tahun ini diprediksi ketat, bisa dilihat di kuartal I saja sudah mulai saling balas program pemasaran,” katanya.(id)