Pungguk Merindukan Bulan

iPhone, produk dengan komponen Foxconn (DOK)

Bak pungguk merindukan bulan. Inilah ungkapan yang tepat untuk rindunya Indonesia akan investasi nyata di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
Investasi dimana investor asing  tidak sekadar hanya menggandeng kampus atau pengembang aplikasi untuk berinovasi, tetapi menjadikan negara ini sebagai basis produksi dengan mendirikan pabrik.

Dengan populasi di atas 220 juta seperti Indonesia, berdirinya satu pabrik tentu memiliki arti yang besar. Multiplier effect dipercaya bisa terjadi, tidak sekadar terserapnya tenaga kerja produktif, tetapi bergeraknya sektor riil di seputar pabrik.

Asa ini sempat mengapung kala muncul isu Foxconn  berinvestasi di  Indonesia pada  Februari 2012 dan sejumlah pejabat setingkat menteri di negeri ini yakin pada 25 Desember 2012 produksi akan dimulai.

Dalam informasi yang disampaikan para pejabat kala itu, rencananya Faxconn akan berinvestasi dalam beberapa fase pembangunan. Untuk fase pertama, Foxconn akan membuat 3 juta unit telepon genggam,  di Cikande, Serang,  Banten.

Lalu naik menjadi 10 juta peralatan elektronik. Beberapa peralatan elektronik yang akan dibuat di Indonesia adalah perkakas rumah tangga seperti televisi.  
Diperkirakan Foxconn akan mulai berproduksi dalam bentuk perakitan pada Desember 2012.

Nilai investasi Foxconn di Indonesia diperkirakan mencapai US$ 10 miliar atau sekitar Rp 94,8 triliun. Foxconn juga  akan bekerjasama dengan sejumlah perusahaan Indonesia diantaranya PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) dan PT Modernland Realty Tbk,  PT Hartono Istana Teknologi, dan PT Star Cosmos.

Mengambang
Asa boleh tinggi, tetapi kenyataan berbicara lain.  Foxconn justru dikabarkan tengah mengembangkan pabrik baru untuk membuat smart devices ke bagian selatan China. Kota yang dipilih adalah Guangxi.
 
Seperti dikutip dari laman ChinaDaily, investasi untuk membangun pabrik baru tersebut sekitar U$802 juta atau sekitar Rp 7.728 triliun.  

Lantas bagaimana nasib Indonesia? Foxconn seperti diberitakan Central News Agency (CNA)  mengaku masih ragu mendirikan pabrik  di Indonesia.

Pemicunya, ketidakjelasan aturan impor gadget dan kinerja aparat penegak hukum yang kurang aktif membasmi penjualan barang impor illegal menjadi alasan penundaan.

Selain itu, Foxconn juga belum  menemukan mitra bisnis lokal yang tepat dan lebih memahami kebutuhan konsumen Indonesia sebelum membuat keputusan akhir dari rencana investasi.

Tetap Optimistis
Di tengah mulai bermunculan suara pesimistis. Pemerintah seperti disuarakan Menteri Perdagangan  Gita Wirjawan tetap optimistis  Foxconn akan memulai pembangunan pabrik di 2013. Namun, untuk kepastian waktu, Gita tidak mau lagi mengumbar janji.

Satu hal yang pasti, Gita sudah mengirimkan sinyal keseriusan ke Foxconn dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 82 Tahun 2012 tentang Ketentuan Impor Telepon Seluler, Komputer Genggam dan Komputer Tablet yang berlaku mulai 1 Januari 2013.

Aturan ini bisa dikatakan sebagai jawaban terhadap keraguan Foxconn tentang komitmen pemerintah menekan impor gadget illegal masuk ke Indonesia.
Tetapi, tentu tak bisa hanya berhenti di situ. Indonesia harus bisa menyakinkan tidak hanya ke Foxconn, tetapi calon investor lain bahwa kondisi tenaga kerja dan lingkungan sosialnya kondusif.

Naiknya upah buruh tentu menjadi salah satu kegaluan bagi investor seperti Foxconn yang masih mengejar skala produksi untuk mendapatkan margin keuntungan.
Harap diingat, sebenarnya Foxconn masuk ke Indonesia untuk mengejar pasar domestik. Hal itu terlihat dengan keinginannya menggunakan strategi substitusi impor untuk membantu mengubah struktur industri di Indonesia. Strategi seperti itu dilakukan untuk mengganti produk impor asing dengan produksi dalam negeri.

Jika sudah begini, sebenarnya daya tawar pemerintah tidak begitu lemah ke investor asing. Sekarang tinggal menunjukkan konsistensi terhadap aturan yang dibuat agar tidak ada lagi istilah pungguk merindukan bulan bagi anak bangsa yang rindu menjadikan negara ini sebagai tempat produksi bukan hanya surga konsumsi barang elektronik.

@indotelko.com