blanja-tcash
telkomsel halo
finnet KTM

Pemerintah janjikan tender tambahan frekuensi 3G di kuartal I 2017

10:10:36 | 16 Dec 2016
 Pemerintah janjikan tender tambahan frekuensi 3G di kuartal I 2017
ilustrasi(dok)
telkomtelstra januari - maret
JAKARTA (IndoTelko) – Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menjanjikan akan melaksanakan tambahan tender frekuensi 3G di 2,1 GHz pada kuartal I 2017.

“Untuk tender 3G, saya harapkan bisa dilakukan pada kuartal I 2017 nanti. Saya ucapkan ke Pak Merza (Presdir Smartfren, Merza Fachys) yang telah kerja keras mematikan Code Division Multiple Access (CDMA) di 1.900 MHz. Sekarang tak ada isu lagi menahan tender di 2,1 GHz,” ungkap Menkominfo Rudiantara kala memberikan ceramah “Energizing Digital Economy” dalam rangka HUT ke-5 IndoTelko, di Jakarta, kemarin.

Diharapkannya, dalam proses tender nantinya tak ada “keributan” karena pemerintah sudah mengetahui kondisi masing-masing kapasitas dari operator. “Nanti jangan ribut lagi, saya sudah tahu di kota-kota mana operator yang suffer atau congest kapasitas mobile broadband-nya. Kita ini harus seperti di sepakbola, bintang boleh ada satu atau dua, tetapi timnya menang. Jangan bintangnya menjulang, timnya gak pernah menang,” nasihatnya.

Pria yang akrab disapa RA ini pun menyarankan operator untuk mulai memasang strategi mematikan layanan 2G karena berat diongkos. “Untuk mengirim data 1 MB lewat 2G itu mahal banget kalau dibandingkan dengan 3G dan 4G. Sebaiknya mulai dipikirkan kapan ini 2G kita matikan," katanya.  

Sementara Wakil Direktur Utama Hutchison Tri Indonesia, M Danny Buldansyah mengakui ada kemajuan soal tender 3G dari pemerintah. “Kita sudah diminta masukannya untuk tender. Ini artinya ada kemajuan, sepertinya bakal tender beneran,” katanya.

Terkait dengan keinginan dari pemerintah agar operator mematikan layanan 2G, Danny mengatakan, bisa mengalihkan seluruh pengguna 2G Tri pada 2018 mendatang. Pelanggan 2G dari Tri hanya sekitar 15%-20% dari total 56 juta pelanggan. "Paling konservatif sih yang kita perkirakan akan rampung tahun 2020, dengan catatan kalau migrasi dilakukan mulai akhir 2018," ungkapnya.

Sementara Vice President Technology and System Telkomsel Ivan Cahya Permana menegaskan penutupan jaringan 2G tak bisa dipaksakan selama penggunanya masih banyak. Telkomsel adalah pemilik layanan 2G terbanyak di industri. Dari 157,6 juta pelanggan, setengahnya adalah pengguna 2G.

Disarankan Ivan, jika pemerintah ingin mempercepat switch off layanan 2G,  perlu ada sosialisasi dan edukasi ke masyarakat lebih dini. “Percepatan tak akan terjadi jika hanya sekadar imbauan pindah ke 4G. Di Jakarta dulu misalnya bisa dilakukan sosialisasi karena mayoritas pelanggan sudah pakai ponsel modern, tapi kalau di Jayapura dan Pidie, pasti banyak yang masih 2G, nasibnya bagaiamana,” katanya.

Menurutnya, pemerintah bisa belajar dari  migrasi di televisi dari analog ke digital. “Itu sudah jalan lima tahun, migrasi ke TV digital masih jalan ditempat,” katanya.  

Diperkirakannya, tahun 2021 merupakan waktu yang paling masuk akal untuk mengosongkan seluruh jaringan yang masih dipakai oleh pelanggan 2G.

Saat ini teknologi 2G  rata-rata hanya digunakan untuk layanan suara dan SMS. Meski bisa digunakan untuk layanan data, kinerja layanan ini hanya nyaman bila digunakan untuk chatting saja. (Baca: Tender 3G)

Untuk tender 3G sendiri telah sering mengalami penundaan. Pemerintah tadinya berencana melelang dua blok frekuensi (blok 11 dan 12) di 2,1 GHz  pada akhir 2015. Rencana ini tertunda karena belum selesainya tata ulang di frekuensi 850 MHz dan bersihnya frekuensi 1.900 MHz dari Smart Telecom. (Baca: Smartfren dan CDMA)

Sedangkan Smart Telecom (afiliasi dari Smartfren) telah mematikan layanan  CDMA di frekuensi 1.900 MHz pada 14 Desember 2016.(id)

Artikel Terkait
loading...
Rekomendasi
telkom solution travel
More Stories
telkom sigma
indihome
News of The Day