5:40 pm | Sunday 20 April 2014
follow us:
16:06:54 | 31 Okt 2013
Indosat akan Diklarifikasi Soal Isu Penyadapan Satelt Palapa

Ilustrasi (DOK)

JAKARTA (IndoTelko) – Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) berencana akan mengklarifikasi isu penyadapan satelit Palapa yang beredar di media massa belakangan ini.

“Bahwasanya satelit dapat disadap sesungguhnya bukan isu baru. Sejauh ini Kominfo belum minta klarifikasi ke Indosat, nanti ada direktorat yang menangani soal itu,” ungkap Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemenkominfo Gatot S. Dewa Broto kepada IndoTelko, Kamis (24/10).

Dasar hukum meminta klarifikasi adalah  Pasal 21 Undang-Undang Telekomunikasi yang intinya penyelenggara telekomunikasi dilarang melakukan kegiatan yang  bertentaangan dengan keamanan, ketertiban, kepentingan umum dan kesusilaan.

Sesuai Pasal 21 tersebut, ada kewajiban dari operator untuk memastikan bahwa satelitnya memiliki  early warning report jika terjadi intersepsi.   

Gatot diminta tanggapannya terkait kabar beredar tentang  Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) bekerja sama dengan Direktorat Sandi Australia dalam memantau dan menyadap komunikasi sejumlah negara di Asia Pasifik.

Target utama kedua badan intelijen itu ialah Satelit Palapa milik Indonesia yang menyediakan layanan telepon seluler dan komunikasi radio di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, Thailand, Filipina, Malaysia, Brunei, dan Papua Nugini.

Pemantauan itu dilakukan melalui Kedutaan Besar AS dan Kedutaan Besar Australia di Jakarta.

“Kami menggunakan kedutaan besar di kawasan kami untuk memantau komunikasi lokal, khususnya percakapan telepon bergelombang mikro,“ ungkap pakar intelijen Australia, Des Ball, kepada Australian Broadcasting Corporation.
     
Ball mengatakan keempat fasilitas spionase tersebut dapat memantau komunikasi sipil serta militer dari kawasan Pasifik tengah hingga wilayah Samudra Hindia.

Gatot menjelaskan, isu penyadapan  sudah menjadi perhatian bersama baik regulator, operator satelit dan konsumen itu sendiri, khususnya lembaga-lembaga strategis.

Menurutnya, hal  yang  menjadi masalah adalah dibutuhkan suatu sistem aplikasi tersendiri untuk mengubah enskripsi materi yang dikomunikasikan.  

“Hal  yang  justru kami khawatirkan bukan apakah Indosat sudah buat aplikasi atau belum. Tetapi kami khawatir jika ada pihak-pihak tertentu yang menggunakan aplikasi untuk menyadap satelit. Selain harga terjangkau,  juga karena sulit mengontrolnya,” katanya.

Indosat sendiri berdasarkan catatan memiliki dua satelit yakni Palapa C-2 dan Palapa D. Palapa C-2 sudah habis nilai ekonomisnya.

Sebanyak 65% saham Indosat dikuasai oleh Qatar Telecom atau Ooredoo. Dalam laporan keuangan di triwulan ketiga 2013, Ooredoo melaporkan Indosat memiliki 53,8 juta pengguna seluler.

Sedangkan pendapatan hingga September 2013 sebesar Rp 17,79 triliun naik 9,4% dibandingkan posisi sama tahun lalu Rp 16,27 triliun.(id)  

Share
Baca Juga:
Berita Terpopuler
  • Indonesia Masih Membutuhkan Konsolidasi Operator
  • BigTV Panaskan Pasar TV Berbayar
  • Memanfaatkan Momentum
  • 2013, Pertumbuhan Pengguna Internet Indonesia Hanya 13%
  • Indonesia Regulations Refuse Bitcoin
  • More Stories
    ~ Milestone ~
    29 September 2005

    Exe Talk
    Andry Huzain: Platform Mobile Jadi Mesin Pertumbuhan Lazada
    Financial Analysis
    Bali Towerindo Amankan Pinjaman Rp 118 miliar
    English Version
    Lamudi Get US$ 7 million for Asian Markets
    Rumors
    Manjot Mann Dikabarkan Hengkang dari Tri Indonesia
    Indepth
    Pasca Merger dengan Axis, XL Harapkan Aturan Frekuensi Segera Kelar