blanja.com
telkomsel halo
finnet KTM

Mastel lakukan riset Digital Inclusion

07:32:27 | 18 Jun 2017
Mastel lakukan riset Digital Inclusion
ilustrasi
telkomtelstra januari - maret
JAKARTA (IndoTelko) - Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) akan melakukan riset tentang kondisi digital inclusion di Indonesia.

Digital Inclusion adalah pemberdayaan masyarakat dengan  teknologi informasi dan komunikasi sebagai landasan mutlak Ekonomi Digital.

Digital Inclusion Index adalah indeks yang menunjukkan tingkat penggunaan digital di masyarakat. Konsep dasar inklusivitas adalah kesempatan untuk mendapatkan akses dan memanfaatkan akses untuk memberdayakan diri.  

Aspek yang akan dilihat dari survei ini adalah connectivity, affordability, skill & awareness, local related content, dan security & sovereignty.

"Sebagai perbandingan, Indeks Digital inclusion dari beberapa Negara lainnya seperti Inggris, Australia, dan India berturut-turut yaitu 86, 50, dan 39. Nah, kita mau tahu Indonesia di posisi berapa," kata Ketua Umum Mastel Kristiono pekan lalu.

Adapun tujuan riset ini sebagai berikut: Mengetahui level inklusi digital Indonesia dan setiap aspeknya, Membandingkan kondisi inklusi digital setiap kelompok wilayah di Indonesia, bidang TIK. Memberikan referensi program yang perlu diberikan kepada Masyarakat. Memberikan rekomendasi yang tepat untuk meningkatkan pemanfaatan TIK  

"Hasil Riset Digital Inclusion nantinya dapat menjadi masukan strategis bagi pemerintah maupun seluruh stakeholder ekosistem digital dalam rangka menumbuhkan ekonomi digital Indonesia," katanya.

Asal tahu saja, sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi banyak tantangan dalam pengembangan teknologi informasi dan komunikasi. Seperti kesenjangan digital yang ditandai dengan akses yang tidak merata, kesenjangan ekonomi, kesenjangan keahlian, kesenjangan literasi dan permasalahan kedaulatan digital.

Beberapa fakta seputar kesenjangan konektivitas di antaranya, saat ini baru 400 dari 514 kabupaten kota di Indonesia yang memiliki akses broadband, dan masih terdapat 7.700 desa yang belum terjangkau sarana telekomunikasi; 213 juta dari 259 juta penduduk masih belum mendapatkan akses broadband (data World Development Report World Bank, ITU dan GSMA tahun 2016); 84,3% rumah tangga di Indonesia memiliki telepon seluler namun pada kenyataannya hanya 35,1% yang terhubung ke Internet (data Survei Indikator TIK Nasional 2015).

Selain masalah ketersediaan akses, kompetensi masyarakat dalam pemanfaatan internet (literasi digital) masih lemah. Dalam hal kefasihan digital (digital fluency), Indonesia menduduki ranking 30 dari 31 negara (survey Accenture 2016).

Menurut survei Internet APJII 2016, dari 51.8% penetrasi Pengguna Internet, 97.4% pengguna internet menggunakan internet untuk social media, 96.4% untuk mendapatkan berita dan 93.8% memanfaatkan internet untuk pembelajaran.

Sebelumnya, Indonesia berada di posisi nomor 35 untuk Indeks Internet Inklusif dalam laporan yang dituangkan Facebook bekerjasama dengan The Economist Intelligence Unit (EIU). (Baca: Indeks Internet)

Riset ini melibatkan 75 negara untuk melihat inklusi internet yang ingin mengidentifikasi dan mengatasi kesenjangan akan ketersediaan, keterjangkauan, relevansi dan kesiapan.(ak)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
telkom solution travel
Lifestyle-IMS-Core-Android_300x250.jpg
More Stories
telkom sigma
smartfren
kerjasama CSI
kerjasama CSI