blanja.com
telkomsel halo

Tender frekuensi 2,1 GHz harus lebih "Joss" dibandingkan 2,3 GHz

11:20:14 | 19 Okt 2017
Tender frekuensi 2,1 GHz harus lebih
telkomtelstra januari - maret
JAKARTA (IndoTelko) - Tender tambahan frekuensi 2,1 GHz diharapkan bisa menghasilkan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) lebih maksimal dibandingkan frekuensi 2,3 GHz.

Di frekuensi 2,3 GHz, Telkomsel akan ditetapkan sebagai pemenang 30 Mhz frekuensi dengan PNBP yang dihasilkan bisa mencapai Rp 3,021 triliun. Angka ini bisa dicapai karena Telkomsel menawar 30 MHz senilai Rp 1,007 triliun dari harga dasar yang diberikan pemerintah Rp 366,720 miliar. Agar bisa memanfaatkan frekuensi, Telkomsel harus membayar dua kali upfront fee dan Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekeunsi dari harga Rp 1,007 triliun.

Sedangkan di Pita frekuensi radio 2.1 GHz akan dilepas dua blok pita frekuensi radio, masing-masing dengan lebar pita frekuensi radio 5 MHz moda FDD yang berada pada rentang 1970–1975 MHz berpasangan dengan 2160-2165 MHz (Blok 11), dan rentang 1975-1980 MHz berpasangan dengan 2165–2170 MHz (Blok 12).

Harga dasar penawaran untuk frekuensi 2,1 GHz adalah Rp 296,742 miliar dengan jaminan keikutsertaan (bid bond) 40% dari harga penawaran yakni Rp 118,696 miliar.

"Kalau berkaca dari hasil di 2,3 GHz, seharusnya pemerintah bisa dapat PNBP lebih besar. Kalau lebih kecil dari di 2,3 GHz, itu ada potensi kerugian negara. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus masuk itu menelaah proses lelangnya," ungkap Direktur Indonesia ICT Institute Heru Sutadi kepada IndoTelko, Kamis (19/10).

Menurutnya, Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dalam membanderol harga dasar 5 Mhz frekuensi 2,1 GHz terlalu rendah.

"Kalau di 2,3 GHz itu dipasang sekitar Rp 366 miliar, harusnya nilai kekinian di 2,1 GHz itu minimal sama. Kan 30 MHz TDD setara dengan 15 MHz FDD. Jangan sampai negara rugilah, pemerintah katanya butuh duit untuk infrastruktur. Lelang frekuensi ini duit didepan mata, jangan sampai tak dioptimalkan," ketusnya.

Sebelumnya, dalam kajian Deutsche Bank Markets Research yang dikeluarkan 16 Oktober 2017 memprediksi empat operator seluler akan bertarung memperebutkan tambahan satu blok (5 MHz) frekuensi 2,1 GHz. Empat operator itu adalah Indosat, XL Axiata, Tri Indonesia, dan Smartfren. (Baca: Harga Frekuensi)

Indosat dan Tri Indonesia diperkirakan akan bertarung habis-habisan agar bisa mendapatkan tambahan frekuensi. (Baca: Peserta 2,1 Ghz)

Operator yang menguasai frekuensi 2,1 GHz saat ini adalah Tri Indonesia (10 Mhz), Telkomsel (15 MHz), Indosat (10 Mhz), dan XL (15 Mhz).(dn) 

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
telkom solution travel
More Stories
iklan-web.gif
telkom sigma
kemenpar pesona indonesia
kemenpar pesona indonesia