blanja
telkomsel halo
finnet KTM

Kolom Opini

IoT dalam kacamata Smartfren

11:06:32 | 10 Jan 2017
IoT dalam kacamata Smartfren
Revie Sylviana
telkomtelstra januari - maret
Saat ini wacana mengenai Internet of Things (IoT) sudah begitu meluas. Kami di Smartfren, sebagai operator, melihat IoT ini dengan dua pendekatan. Yakni dari data riset dan dari pemetaan pasar.

Melihat dari data riset, ternyata angka dan prediksi untuk IoT itu sangat fantastis.

Dari Machina Research, diprediksi potensi pendapatan dari layanan Machine to Machine (M2M) dan IoT mencapai Rp 1,8 triliun di Indonesia. Kemudian pertumbuhannya diperkirakan mencapai 21 persen per tahun.

Secara detail, potensi pendapatan IoT yakni dari ritel seperti konsumer elektronik, misal wearable device, alat tracking kesehatan, itu mencapai 26 persen kontribusinya.

Lalu disusul segmen otomotif sebesar 23 persen. Kemudian intelligent building seperti smart home. Baru disusul segmen utility, smart city dan public transportation.

Lalu melihat dari pemetaan pasar, kami melihat potensi pengembangan IoT ini masih besar.

Awalnya, kami ini pemain baru di layanan digital (digital service). Lini bisnis baru ini baru dibangun setahun belakangan. Sebab dulu saat masih menggunakan teknologi CDMA, banyak yang tidak kompatibel dengan jaringan.

Karena masih baru, tim digital service Smartfren fokus pada setup platform yang sama serta menyiapkan sumber daya.

Tetapi melihat potensi besar pengembangan IoT, kami tentunya tertarik untuk menggarapnya. Bagaimana caranya? Salah satu strategi yakni mengutilisasi kerja sama antargrup, sebagai bagian dari anak usaha Sinar Mas Group.

Jadi, kami akan menggarap layanan M2M untuk anak-anak usaha Sinar Mas lain sevagai captive market. Tujuannya, sebagai pilot project dan tolok ukur kinerja Smartfren ketika berhadapan dengan klien lain.

Misalnya, yang sudah berjalan adalah, untuk otomotif kami mengeluarkan produk Smarttreking yang bekerja sama dengan Sinar Mas Insurance. Kemudian akan ada Smarthome, bekerja sama dengan SinarMas Land.

Nah, karena kami ini pemain baru, kami juga memiliki pemetaan sejumlah tantangan yang harus kami hadapi untuk mengembangkan IoT dan M2M ini.

Pertama, tantangan edukasi. Mengapa? tentu saja karena IoT dan M2M ini adalah sesuatu yang baru, terkadang penggunanya bahkan tidak sadar jika dia menggunakan layanan IoT atau M2M.

Kedua, kendala transformasi. Biasanya, saat memulai kerja sama business to business (B2B), sering terkendala pada transformasi perusahaan partner. Manajemen mereka ingin sekali adopsi teknologi M2M, namun dalam internal perusahaan mereka pun terdapat sejumlah tantangan.

Misal, platform yang ada tidak bisa langsung menjalankan M2M dari Smartfren sehingga mereka harus menggantinya dengan platform baru.

Ketiga, dari sisi kebijakan dan proses bisnis. Biasanya manajemen perusahaan ingin mendorong penggunaan M2M, tetapi terdapat kendala pada sumber daya manusia (SDM) yang beroperasi harian karena mereka harus mengganti standard operational procedure (SOP) mereka.

Jadi, SDM internal pun belum tentu siap dan mengutilisasi platform sebagaimana mestinya. Keempat, yakni tantangan dari sisi biaya penerapan IoT. Asal tahun saja, saat ini biaya untuk implementasi device M2M juga tinggi, sehingga bisa menjadi hambatan bagi calon pengguna.

Lantas apa jawaban dari tantangan tersebut?

Seperti sudah disebutkan di atas, kami akan mengutilisasi kekuatan grup. Oleh sebab itu, kami banyak melakukan implementasi IoT awal dengan grup. Kami berharap cerita sukses di grup bisa menjadi pertimbangan klien.

Misal di smart home dan di layanan distribusi, kami menggunakan alat yang sama, hanya saja penggunaan dan pemafaatannya berbeda. Dari situ kami bisa menunjukkan bahwa kami bisa melakukan custom solusi untuk klien.

Selain menggunakan captive market dari Sinar Mas Group, kami juga melakukan konsep economy sharing.

Konsep ini artinya, kami bermitra dengan berbagai pemain ekosistem IoT dalam sebuah proyek yang kami garap bersama, dengan harapan akan meringankan konsumen pengguna IoT serta tetap menguntungkan semua lapisan ekosistemnya.

Konsep ini melengkapi sistem kemitraan IoT, yang saat ini berupa build (membangun sendiri), borrow (meminjam), atau buy (akuisisi).

Contoh penerapannya, misal kerja sama Smartfren dengan Sinar Mas Insurance dalam produk smarttreking. Produk ini berupa sebuah alat pelacak bagaimana tingkah laku menyetir si pengemudi, sehingga nantinya pengemudi mobil tinggal membayar premi sesuai dengan caranya mengemudi. Tidak dipatok sama setiap bulannya.

Nah, bagi pengguna asuransi Sinar Mas, tentu saja membayar premi sendiri mereka harus mengeluarkan uang. Masa harus mengeluarkan uang lebih untuk menambah device? Itu akan jadi penghambat pertumbuhan nasabah Sinar Mas.

Untuk mengatasi hal itu, kami menggunakan konsep sharing economy agar harga device lebih terjangkau buat pelanggan. Lalu berbagi ongkos antara Smartfren, mitra teknologi, serta Sinar Mas Insurance. Bisnis model yang dijalankan adalah dengan berbagi pendapatan berdasarkan porsi kontribusi.

Cara lainnya, kami memiliki strategi economy sharing dengan operator telekomunikasi lain. Mengapa? karena kami saat ini terbatas hanya menggunakan teknologi 4G saja. Kami bisa saja membeli konektivitas dari operator telekomunikasi lain. Lalu kami kombinasi jadi solusi sebelum kami jual kembali ke reseller.

Yang ingin kami garisbawahi yakni bahwa Smartfren tidak bermain di konektivitas karena pasarnya kecil. Smartfren devicenya 4G, belum banyak yang kompatibel. Siapa yang mau beli M2M Smartfren jika device dan teknologinya tidak kompatibel, bukan?

Cara berikutnya yakni dengan memberikan layanan custom, atau disesuaikan dengan kebutuhan klien. Cara ini untuk mengatasi kesangsian banyak pihak, jika Smartfren punya layanan IoT.

Kami akan melihat dulu apa kebutuhan perusahaan tersebut, lalu kami kembali lagi dengan proposal yang menyentuh semua elemen kebutuhan perusahaan tersebut.

Dengan demikian, kami bisa memonetisasi layanan IoT. Jika pada tahun ini, fokus kami adalah untuk mengkoleksi data yang dihasilkan dari aneka device IoT, maka tahun depan kami berharap bisa memonetisasinya.

Kami harapkan layanan M2M akan jadi penopang bisnis perusahaan di masa mendatang, atau bisa saja spin-off dari Smartfren jika sudah sangat besar. Lagipula, operator telko saat ini memiliki banyak hal untuk dikerjakan selain membangun IoT.

Mengapa pendapatan IoT dari M2M akan besar? Sebab device M2M ini rata-rata dipakai 6 bulan-1 tahun. Jadi akan digunakan dalam waktu lama per pengguna. Sementara konektivitas biayanya kecil, misal harga paket data saat ini hanya Rp 25.000 dan bisa digunakan sebulan. Apalagi, besaran pasar M2M lebih kecil.

Poin penting yang dibangun M2M ini adalah big data. Sekali data ditambang maka duitnya ada disitu. Kami akan menggunakan data-data tersebut, ditambah data lain dari anak usaha Sinar Mas, berupa data profiling. Misal dari payment gateway Uangku, atau fintech enabler Dimo Pay.

Jika nanti data-data tersebut digabung dengan data M2M, maka data yang kami miliki akan sangat kaya. Kami perkirakan integrasi data ini akan memakan waktu satu tahun sebelum siap untuk kami gunakan.

Layanan Baru
Ke depan, kami akan membuat layanan akses satu pintu khusus IoT sehingga memudahkan pelanggan IoT Smartfren. Ini bagian dari peta jalan kami. Jadi di tahun depan, kami akan merilis marketplace IoT, tergantung pada ketersediaan ekosistem dan pengembangan pasar.

Bentuknya, bisa saja B2B, B2C, atau C2C. Lantas, di mana kami akan berperan? untuk mewujudkan marketplace IoT ini kami akan bermitra dengan banyak pihak. Sebab jika harus membangun ekosistem sendiri, akan sangat sulit. Kami melihat banyak perusahaan yang sudah siap, yang memiliki layanan IoT. Mereka bisa diajak kerja sama.

Kita juga bekerja sama denga platform partner yang sudah siap seperti IBM, Intel, Ericsson dan sebagainya. Konsep kerja sama seperti economy sharing.

Lalu di tahun depan kami juga akan mendorong bisnis building management, menggunakan mal-mal Sinar Mas Group. Lalu kami akan masuk juga ke bisnis kesehatan, misal menyediakan EEG tracking. Kami menggunakan Eka Hospital, anak usaha Sinar Mas Group, sebagai pilot project.(*)

Ditulis oleh Senior Vice President Digital Services Smartfren, Revie Sylviana

Artikel ini juga dipublikasikan di Buku All About IoT yang diterbitkan IndoTelko.com bersama Indonesia IoT Forum

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
telkom solution travel
Lifestyle-Roaming-Costs-v2.jpg
More Stories
telkom sigma
smartfren
kerjasama CSI
kerjasama CSI