blanja-tcash
telkomsel halo
finnet KTM

Gandeng mitra lokal, Xiaomi mulai produksi di Batam

07:00:12 | 12 Feb 2017
Gandeng mitra lokal, Xiaomi mulai produksi di Batam
Menkominfo Rudiantara (kiri) tengah memperhatikan produk Xioami(dok)
telkomtelstra januari - maret
JAKARTA (IndoTelko) - Vendor ponsel dari Tiongkok, Xiaomi, akhirnya memulai produksinya di Indonesia untuk memenuhi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) bagi produk yang dipasarkannya di Tanah Air.

Untuk memproduksi perangkat ponsel di Indonesia, Xiaomi bekerjasama dengan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), PT Sat Nusapersada Tbk, dan TSM Technologies. Pabrik lokal Xiaomi saat ini berada di Batam.

Xiaomi pertama kali masuk pasar Indonesia pada Agustus 2014 dengan memboyong Redmi 1S, yang mendominasi pasar ponsel dalam negeri dengan performa yang mumpuni namun dengan harga terjangkau.

Selanjutnya, Xiaomi juga memperkenalkan beberapa ponsel dan berhasil menjadi pilihan oleh para pengguna ponsel di Indonesia. Xiaomi juga meresmikan pusat layanan untuk meningkatkan pengalaman penggunanya. Melalui produksi lokal, Xiaomi kembali mempertegas komitmennya di pasar Indonesia, dan menunjukkan bahwa Indonesia merupakan dan akan terus menjadi pasar penting bagi Xiaomi.

Ponsel pintar Xiaomi pertama yang akan di produksi di Indonesia adalah Redmi 4A yang dilengkapi dengan prosesor Qualcomm Snapdragon 425, dual sim dan didukung jaringan 4G.

Berat ponsel pintar ini hanya 131.5g, dilengkapi dengan baterai 3120mAh dan ketahanan waktu selama tujuh hari, yang akan tersedia dengan harga Rp 1,499 juta  dijual melalui jaringan toko Erafone dan didistrubusikan oleh PT Teletama Artha Mandiri (TAM) ke seluruh toko handphone tradisional Indonesia mulai akhir Februari.

“Memulai produksi lokal di Indonesia merupakan sebuah bukti akan pentingnya pasar Indonesia bagi Xiaomi, sekaligus menandai komitmen kami untuk terus tumbuh di Indonesia.  Kami berharap, melalui produksi lokal, kami dapat memegang peranan penting dalam membangun kemampuan negara ini untuk memproduksi perangkat keras maupun lunak untuk produk ponsel pintar. Kami melihat potensi pertumbuhan yang besar di Indonesia, dan ini merupakan sebuah kehormatan bagi kami untuk turut andil dalam perubahan yang akan mendorong Indonesia ke dalam babak baru dalam industri ponsel pintar," kata Senior Vice President, Xiaomi Wang Xiang dalam keterangannya, kemarin.

CEO Erajaya Swasembada Hasan Aula mengungkapkan perseroan sudah bekerjasama dengan Xiaomi sejak 2014. "Kami sangat gembira melihat kemajuan Xiaomi yang signifikan di Indonesia dan kami akan terus menantikan lebih banyak produk lokal dan membawa produk tersebut kepada masyarakat Indonesia. Saya yakin bahwa masyarakat Indonesia pun pasti tak sabar untuk menunggu produk terbaru Xiaomi lainnya di Indonesia,” katanya.

Head of Southeast Asia, Country Head of Indonesia, Xiaomi Steven Shi dengan membuat produk di Indonesia, perseroan dapat membawa lebih banyak lagi produk menarik untuk masyarakat. "Kami berkomitmen untuk mendayagunakan kemampuan produksi lokal dalam pembuatan ponsel pintar kami sekaligus bekerjasama dengan pengembang perangkat lunak di Indonesia untuk lebih meningkatkan pengalaman pengguna bagi seluruh Mi fans di Indonesia. Indonesia merupakan pasar yang penting bagi Xiaomi dan kami yakin bahwa konsumen di Indonesia memiliki semangat yang sama dengan kami terkait komitmen Xiaomi dalam memproduksi perangkat di Indonesia," katanya.

Sedangkan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengaku bangga dengan pencapaian TKDN dari Xiaomi Redmi 4A.  "Kita juga ingin anak bangsa Indonesia bisa memberikan value added pada produk smartphone yang dipasarkan di Indonesia, baik dari desain maupun softwarenya," katanya.

Diungkapkannya, sejak Januari 2017 Kominfo ada kebijakan  yang signifikan dari pemerintah bahwa  sektor ICT ke depan akan lebih maju dengan berlakunya TKDN 30 %, untuk komponen lokal. "Satu ponsel itu terdiri atas 60% peranti lunak (software) dan 40% adalah peranti keras (hardware). Di software inilah bisa dimanfaatkan oleh orang Indonesia," katanya.

Rudiantara senang karena harga ponsel pintar yang murah dan bisa dijadikan hadiah. Oleh karena itu ia mendorong pengembangan bidang software karena nilainya cukup besar. Namun demikian, Menteri Rudiantara juga  sangat tidak menyukai jika buatan di Indonesia dibandingkan dengan buatan negara  lain.

"Kalau kita dibandingkan yang ditekan lama kelamaan adalah biaya. Misalnya Indonesia berapa negara lain berapa? Kita akan jadi bluecollars countries akan tetapi saya yakin untuk tingkat  ASEAN, Indonesia menang di software," paparnya.

Menteri Kominfo mengatakan produksi ponsel pintar tidak hanya dilihat dari proses manufaktur belaka. "Jangan hanya nilai insentif manufaktur, kita harus berfikir apakah ponsel ini bisa jalan jika tidak ada jaringan? Apakah ponsel bisa dipakai jika tidak ada aplikasinya. Jadi ekosistem harus dilihat, manufaktur, jaringan dan device. Ketiganya harus berjalan bersamaan," katanya.(id)

Artikel Terkait
loading...
Rekomendasi
telkom solution travel
More Stories
telkom sigma
indihome