blanja-tcash
telkomsel halo

Kolom Opini

Gairah Alita menggarap bisnis IoT

11:22:23 | 26 Dec 2016
Gairah Alita menggarap bisnis IoT
Ita Yuliati (dok)
Sejak Tahun 2013, Alita Grup yang selama ini dikenal sebagai pemain di bisnis di bidang ICT (Information Communication Technology), sudah mulai mengembangkan bisnisnya untuk mengikuti perkembangan bisnis berbasis teknologi dan internet, salah satunya melalui unit bisnis baru kami yaitu AiBAS (Alita Integrated Building Automation System).

Unit bisnis baru ini fokus di bidang IoT mengelola pembangunan Smart Building dan Smart Office.

Belakangan ini kita sering mendengar atau membaca tentang konsep kota pintar atau yang biasa disebut Smart City yang sedang dicanangkan oleh beberapa kepala daerah di Indonesia seperti oleh pemprov Jakarta dan kotamadya Bandung. Topik ini menjadi sangat menarik dan menjadi salah satu senjata utama para pemimpin daerah dalam mengembangkan daerahnya karena memang sejalan dengan perkembangan dunia teknologi terutama internet yang kita tahu memang sangat cepat.

Kita juga sudah mulai mendengar kabar bahwa beberapa kepala daerah lain di Indonesia pun akan segera menyusul untuk menerapkan konsep Smart City ini di daerah – daerahnya. Melalui Smart City ini lah Alita Grup akan mencoba untuk berperan banyak dalam perkembangan Internet of Things (IoT) di Indonesia.

Alita Grup sendiri sudah berdiri sejak 1995 dengan fokusnya yaitu di bidang teknologi informasi dan telekomunikasi (ICT). Tanpa berita yang berlebihan, kami  berhasil membesarkan perusahaan ini menjadi salah satu pemain besar di bidang ICT. Baru setahun berdiri, pada 1996 Alita sudah mendapat kepercayaan dari Indosat untuk mengerjakan proyek infrastruktur telekomunikasi di Kamboja. Kami menangani proyek di Kamboja itu hingga 2001.

Bisnis kontruksi yang kami kerjakan terutama untuk bangunan, infrastruktur publik, dan telekomunikasi fasilitas penunjang.
Pada tahun 2000, Grup Alita membeli 50% PT Nasio Karya Pratama (NKP). Hal ini membuat gerak Alita di bisnis ICT lebih leluasa dalam menawarkan jasa dengan mengusung NEC ke pelanggan.

Tahun 2002, NKP mendapat proyek mengerjakan pembangunan serat optik di seluruh Jawa Timur. Ditahun yang sama juga Alita juga berhasil mendapat kepercayaan dari XL untuk membangun jaringannya. Kemudian, pada 2005 berhasil mendapat proyek pembangunan menara pemancar IM3 dan Satelindo.

Kini di bawah Grup Alita terdapat beberapa anak usaha seperti PT Alita Praya Mitra, PT Nasio Karya Pratama, PT Smart Aplikasi Indonesia, PT Buana Selaras Globalindo yang fokus mengelola trading di industri telko, serta PT Nutec yang bekerja sama dengan Telkom mendukung PT KAI dalam membangun modernisasi ticketing. Semua ticketing KRL di Jabodetabek kami yang tangani pembangunan infrastrukturnya. Juga, ticketing kereta di Bandara Kuala Namu, Medan,

Bahkan, vending machine yang ada di berbagai stasiun KRL, pajak online, pajak retribusi untuk restoran, yang membangun adalah Nutech. Bisa dibilang Nutech adalah pionir di transaksi transportasi.

Selain itu juga, ada beberapa unit bisnis lain seperti unit bisnis Broadcast yang menjalankan bisnis trading di bidang peralatan Broadcasting, dan unit bisnis IT di bisnis teknologi informasi. Unit bisnis ini memang  disiapkan untuk dapat bisa berdiri sendiri dan berperan lebih di bidangnya masing – masing .

Pengembangan Bisnis
AiBAS (Alita Integrated Building Automation System) sendiri hingga saat ini sudah diterapkan di beberapa gedung yang salah satunya yaitu kantor kami sendiri Alita Building (gedung kantor Grup Alita di T.B. Simatupang).

Selain unit bisnis tersebut, Alita Grup juga terlibat dalam pembuatan konsep Smart City di beberapa kota di Indonesia seperti Jakarta, Bandung dan Manado.

Kini kami mulai bekerjasama dengan beberapa partner teknologi baik dalam dan luar negeri, kami mulai membesarkan bisnis berbasis IoT ini. Platform IoT kami kini tidak hanya diperuntukan untuk gedung saja, namun juga siap digunakan di berbagai bidang pendukung Smart City seperti perumahan, rumah sakit, pertanian, perkebunan, hingga perikanan.

Tentunya sistem seperti ini sangat menarik dan akan sangat berguna apabila dapat diimplementasikan di seluruh daerah di Indonesia, tidak terbatas hanya perkotaan. Harapan kami memang munculnya pemain – pemain baru dari dalam negeri yang dapat meramaikan peluang bisnis di bidang IoT ini.

Namun tentunya hal ini bukan tanpa kendala atau tantangan, seperti salah satunya tantangan di sisi investasi atau pendanaan. Seperti contohnya dalam hal penerapan IoT untuk Smart City yang ternyata sangat mahal karena tidak terbatas hanya aplikasi atau software semata. Sistem tersebut membutuhkan CAPEX yang lumayan besar berupa infrastruktur dan juga hardware.

Oleh karena itu Pemerintah Daerah tidak bisa hanya sendirian menerapkannya, melainkan harus bersama-sama dengan semua pihak termasuk pihak akademisi, swasta, dan komunitas guna membentuk suatu Smart City Ecosystem yang integrated and sustainable.

Apabila semakin banyak pemain – pemain baru dalam negeri seperti Alita bermunculan dan diberi kesempatan untuk berkreasi dan berpartisipasi di ekosistem ini, tentunya ini merupakan ladang bisnis yang besar bagi semua pihak mengingat potensi pasar, penduduk, serta jumlah kota - kota di Indonesia yang begitu banyak.

Sudah saatnya kita bisa lebih berperan aktif dan bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Ditulis oleh Direktur Utama Alita Praya Mitra, Ita Yuliati

Artikel ini juga dipublikasikan di Buku All About IoT yang diterbitkan IndoTelko.com bersama Indonesia IoT Forum

fb tw
Share
Artikel Terkait
loading...
Rekomendasi
telkom solution travel
More Stories
telkom sigma
indihome
News of The Day