blanja.com
telkomsel halo

Usia tua dan anomali, Haramkah bagi satelit?

10:36:34 | 03 Sep 2017
Usia tua dan anomali, Haramkah bagi satelit?
Satelit tengah diuji coba di pabrik Thales Alenia Space (dok)
telkomtelstra januari - maret
JAKARTA (IndoTelko) - Anomali yang dialami Satelit Telkom 1 pada Jumat (25/8) lalu menjadi perbincangan hangat di masyarakat.

Terganggunya layanan publik seperti perbankan, penyiaran, dan lainnya membuat masyarakat mendadak ingin tahu tentang dunia persatelitan nasional.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara pun tak ketinggalan angkat suara soal anomali Telkom 1 itu. "Telkom 1 itu sudah tua. Rata-rata umur satelit 15 tahun," kata Pria yang akrab disapa RA itu pekan lalu. (Baca: Satelit Telkom)

Satelit Telkom 1 diluncurkan pada 13 Agustus 1999. Satelit tersebut diproduksi Lockhead Martin dari Amerika Serikat dan peluncurannya dilakukan oleh Arianespace dari Eropa. Satelit Telkom 1 menempati slot orbit 108 bujur timur, memiliki kapasitas 24 transponder, dan beroperasi pada frekuensi C-Band. (Baca: Anomali Telkom 1)

Berdasarkan hasil evaluasi dan konsultasi dengan Lockheed Martin pada tahun 2014 dan 2016 satelit Telkom 1 dalam kondisi baik dan dapat beroperasi normal hingga beberapa tahun kedepan, sekurang kurangnya sampai dengan tahun 2019, dimana hal ini sesuai dengan best practice di industri satelit.

Satelit Tua
Benarkah satelit tua potensi bermasalah? Ketua Asosisasi Satelit Seluruh Indonesia (ASSI) Dani Indra Widjanarko menjelaskan kerusakan tak selalu karena usia satelit. "Satelit yang muda seperti Amos bisa terkendala anomali juga yang masih design life sama halnya dengan satelit AMC 9 yang terkena anomali. Kalau bicara satelit yang dioperasikan lebih dari 15 tahun ada contohnya Palapa C," terangnya.

Diungkapkannya, sebenarnya di industri satelit setiap ada peristiwa anomali tentu ada penyelidikan penyebabnya, terutama untuk kepentingan pihak asuransi. "Asuransi paling berkepentingan dengan hasil penyelidikan," katanya.

Anomali
Dani pun menambahkan, soal anomali hal yang biasa di dunia persatelitan. Ada bermacam-macam penyebab terjadinya anomali satelit seperti solar flare dan radiasi sinar cosmic. Penyebab anomali sebenarnya bisa diteliti dari data-data telemetri yang rutin diterima dari satelit.

"Penyebab anomali bisa bermacam-macam, biasanya bahan bakar habis, baterai rusak, solar array (kumpulan panel, modul, dan sel solar) yang tidak bisa berputar, sistem thruster tidak bekerja, sistem guidance tidak bekerja dan lain sebagainya," ungkapnya.

Dikatakannya, dalam beberapa bulan belakangan ini terjadi anomali yang tak melihat usia dari satelit. Misalnya, anomali terjadi pada satelit AMC-9 buatan Alcatel Space (Thales) yang diluncurkan 2003. Satelit NSS 806 (d/h IS-806), buatan Lockheed Martin diluncurkan 1998. Satelit Echostar-3 buatan  Lockheed Martin diluncurkan 1997, dan Intelsat 33 buatan Boeing diluncurkan Agustus 2016.

Sekjen Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia-ITB (PIKERTI-ITB) M Ridwan Effendi mengatakan, di Indonesia tak banyak yang berani berinvestasi di bisnis satelit. "Kita sekarang menggunakan kurang lebih 250 transponder. Bicara satelit itu ukurannya transponder, satu kavling, satu bandwith 36 MHz itu namanya satu transponder. Dan, Indonesia sekarang menggunakan total 250 transponder," paparnya.

Menurutnya, dari total 250 transponder yang digunakan Indonesia, hanya 110 transponder yang dipasok dari domestik dan sisanya masih sewa dari asing. "Sewa satu transponder itu tarifnya US$1 juta per tahunnya di tahun 2005, sekarang  menurun menjadi sekitar US$900 ribu per tahunnya. Ini karena ada persaingan diantara pemain. Harga turun seperti itu dengan resiko yang tinggi, tak ada yang berani bermain kecuali punya kapital dan sumber daya yang kuat," pungkasnya.
(id)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
hut idt 6
More Stories
telkom sigma
kerjasama CSI
kerjasama CSI