blanja.com
telkomsel halo

Ini Penyebab Penyedia Jasa Internet tak Terlibat di Project Loon

08:49:55 | 12 Nov 2015
Ini Penyebab Penyedia Jasa Internet tak Terlibat di Project Loon
Ilustrasi (dok)
telkomtelstra januari - maret
JAKARTA (IndoTelko) – Kisah kesepakatan tiga operator besar di Indonesia dengan Google yang akan melakukan uji teknis (Technical Test) untuk penyediaan akses internet menggunakan balon atau Project Loon masih menyisakan sejumlah kontroversi.

Salah satunya adalah pertanyaan tentang alasan Google yang memilih Telkomsel, Indosat, dan XL dengan meninggalkan Asosiasi Penyedia Jasa Internet (APJII). Padahal, Google dan APJII sempat terlibat diskusi perihal Project Loon sebelum dengan para operator.

“Memang, kami sempat tanyakan tentang Project Loon itu di pertengahan tahun ini ke Google. Mereka bilang itu untuk akses dan tanya kita (Penyedia Jasa Internet/PJI) ada di frekuensi mana,” ungkap Ketua Bidang Keorganisasian dan Anggota APJII, Handoyo Tahir, kala menjadi salah satu narasumber dalam diskusi Kedaulatan Internet, Konten Lokal vs Konten Asing, belum lama ini.

Diungkapkannya, kala itu kepada Google dinyatakan PJI hanya memanfaatkan 2,4 GHz dan 5 GHz (unlicensed frequency) yang biasa digunakan untuk Wi-Fi. “Mereka itu tadinya butuh di 700 MHz atau 900 MHz. Setelah itu tak ada diskusi, tiba-tiba ada kabar sudah sepakat dengan operator,” katanya.

Menurutnya, teknologi High Altitude Platform Station (HAPS) milik Google ini ibarat In Building Solution (IBS), namun hal yang harus diperhatikan adalah dalam aktivasi nantinya dibutuhkan Google Passport. (Baca juga: APJII minta ikut Project Loon)

“Jadi, nanti semua profiling dari pengguna tentu bisa diketahui Google. Potensi pendapatan disana di era Big Data,” katanya.

Dalam penelusuran di sejumlah pemberitaan memang terlihat jika pengguna terkoneksi dengan  Google NodeB, ada trafik ketika autentifikasi ke Google Server selain ke Home Location Register (HLR) milik operator.  

Seandainya memang aktivasi akses penggunaan balon internet nantinya menggunakan Google Passport, ini akan memudahkan raksasa internet itu melakukan profiling pelanggan. Google sendiri tengah meretas cara membuat pelanggan lebih disiplin dalam memberikan data, terlihat dengan kebijakan update data bagi pengguna Andorid.    

Dalam pertarungan di era digital, audience management adalah kebutuhan utama untuk bisa menang memperebutkan kue iklan.  Pemain internet memiliki data pelanggan lebih lengkap ketimbang operator. Jika operator hanya memiliki data valid berupa Mobile Station International Subscriber Directory Number (MSISDN), pemain aplikasi bisa mendapatkan alamat email, kartu kredit, selain nomor pelanggan.

Belum tentukan
Pada kesempatan lain, VP LTE Commercial Telkomsel Lindayanti Harjono mengungkapkan  belum bisa memastikan daerah mana saja dan teknologi apa yang nantinya akan digunakan untuk uji coba balon internet milik Google ini.

"Penentuan uji coba titik mana saja yang nanti akan masuk dalam cakupan Project Loon belum bisa dipastikan karena saat ini memang masih dalam tahap diskusi bareng-bareng. Kemungkinan besar di remote area kawasan Timur,” ungkapnya.

Seperti diketahui, sejak awal 2016, balon Google dalam Project Loon akan terbang di atas bumi Indonesia selama setahun penuh. Uji coba teknis ini diharapkan oleh Google akan terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan sehingga bisa ikut melayani 100 juta pengguna di Indonesia. (Baca juga: Project Loon Siapa Diuntungkan)

Telkomsel sudah mengeluarkan sinyal tak memberikan porsi lebih kepada Google selain penyedia teknologi bukan operator. Soalnya, Google cukup serius membangun infrastruktur telekomunikasi seperti kabel laut internasional dan investasi di satelit.(id)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
telkom solution travel
More Stories
telkom sigma
kerjasama CSI
kerjasama CSI