blanja

KUDO migrasi dari arsitektur monolitik ke microservice

09:17:41 | 11 Jan 2017
KUDO migrasi dari arsitektur monolitik ke microservice
Programmer KUDO tengah bekerja(Foto:KUDO)
finnet KTM
telkomtelstra januari - maret
JAKARTA (IndoTelko) – KUDO melakukan proses migrasi dari arsitektur monolitik ke microservice.

Arsitektur microservice memiliki keunggulan utama yang berdampak positif bagi perkembangan dalam sistem teknologi, yaitu language agnostic.

Technology Evangelist KUDO Trio Purnomo menjelaskan migrasi ke arsitektur microservice memberikan kemudahan untuk membangun sebuah sistem tanpa bergantung kepada satu bahasa pemrograman yang memiliki dampak positif dalam mengadopsi teknologi baru tanpa mengubah keseluruhan sistem.

Hal ini secara tidak langsung dapat mengembangkan kultur KUDO yang dinamis di dalam bidang teknologi dan selalu siap dengan perubahan teknologi.

Dengan migrasi ini juga turut mempermudah tim Human Capital KUDO dalam mencari talenta-talenta programmer baru. Jika sebelumnya pada arsitektur monolitik suatu sistem dibuat menggunakan satu bahasa pemrograman, dengan microservice dapat di pecah-pecah ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, dan bagian-bagian kecil ini bisa dibangun dengan beragam bahasa pemrograman.

Berbekal talenta programmer dengan berbagai macam latar belakang bahasa pemrograman dapat bekerja sama membangun KUDO menjadi lebih baik.

Melihat manfaat yang dapat diberikan oleh arsitektur microservice ini, membuat KUDO semakin optimis dalam mengembangkan teknologi dan bisnisnya untuk mencapai misinya untuk memberdayakan sejuta pengusaha digital pada 2018, serta memberi peluang jutaan orang Indonesia untuk berbelanja online.

KUDO alias Kios Untuk Dagang Online merupakan pelopor platform online to offline (O2O) yang menghubungkan merchant online dengan para pelanggan offline melalui jaringan agen di Indonesia.

Melalui agen KUDO, pelanggan yang memiliki keterbatasan akses internet, rekening bank, dan kartu kredit, bisa merasakan pengalaman berbelanja online dengan melakukan pembayaran secara tunai.

Asal tahu saja, tren yang terus bergerak di dunia teknologi informasi (TI) menjadi pertimbangan dalam membangun perusahaan startup, yaitu bahasa pemrograman, database, infrastruktur, dan lain-lain.

Perkembangan tren ini menuntut para pekerja TI untuk selalu mengikuti hal terbaru yang bisa diimplementasikan dalam startup yang dibangun.

Di dalam membangun sebuah sistem TI dikenal istilah arsitektur monolitik, yaitu sistem ketika aspek fungsional dari sistem tidak dipisahkan dalam komponen-komponen yang lebih kecil.

Pada umumnya, di fase awal sebuah startup akan menggunakan arsitektur ini. Hal ini dikarenakan jumlah tim yang masih sedikit dan dituntut untuk menghasilkan produk dengan cepat, dan sistem yang dibuat biasanya masih relatif sederhana.

Tantangan mulai timbul ketika startup mulai berkembang, yaitu dengan tim yang semakin banyak, sistem yang semakin kompleks, dan traffic ke website atau aplikasi yang semakin meningkat.

Pada fase inilah biasanya startup mulai memikirkan masalah skalabilitas. Untuk meningkatkan skalabilitas dalam arsitektur monolitik, diperlukan penambahan kapasitas sistem dengan menambah kapasitas server yang terkadang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Selain biaya, sistem monolitik juga memiliki kelemahan dalam proses kolaborasi antar tim.

Salah satu contohnya adalah pada saat ada rencana rilis terbaru yang telah disepakati dengan fitur tambahan yang akan dibuat, namun ada salah satu fitur yang mengalami kendala di waktu rilis yang ditentukan. Hal seperti ini dapat menunda rilis secara keseluruhan.(wn)

Telkom Smart City
Artikel Terkait
Lifestyle-Roaming-Costs-v2.jpg
More Stories
telkom smart city
telkom sigma
telkom DBS / liputan khusus