blanja-tcash

Hybrid Cloud menjadi pilihan untuk Transformasi TI

09:14:59 | 19 Jan 2017
telkom solution travel
Hybrid Cloud menjadi pilihan untuk Transformasi TI
Cloud & Enterprise Business Group Lead, Microsoft Indonesia Yos Vincenzo
finnet KTM
telkomtelstra januari - maret
JAKARTA (IndoTelko) – Pemimpin teknologi informasi (TI) di Asia Pasifik mengambil langkah tegas dalam menyesuaikan pendekatan teknologi dengan proses transformasi digital organisasi, sembari mengelola infrastruktur TI yang sudah berjalan.

Sebanyak 48% dari para pemimpin TI di Asia Pasifik memprioritaskan hybrid cloud dibandingkan public cloud ataupun private cloud untuk organisasi mereka.

Data tersebut merupakan salah satu dari beberapa temuan kunci dalam survei Microsoft Asia Pasifik yang melibatkan 1.200 pemimpin TI , di 12 negara  untuk memahami bagaimana mereka mengembangkan strategi infrastruktur TI untuk memenuhi kebutuhan bisnis digital.

Beberapa tahun mendatang akan menjadi masa-masa penting bagi para pemimpin TI saat menjalankan rencana transisi ke infrastruktur TI modern berbasis cloud. Menurut IDC, sebanyak 60% dari 1.000 organisasi di Asia Pasifik akan menjadikan transformasi digital sebagai kunci strategi bisnis mereka pada penghujung tahun 2017 ini.

Pemimpin TI berusaha menyeimbangkan kebutuhan TI, tuntutan anggaran, serta tuntutan untuk memodernisasi sistem yang dapat memenuhi tantangan masa depan digital.

Survei menemukan bahwa saat ini 43% dari responden di Indonesia sudah menggunakan hybrid cloud. Angka ini diperkirakan akan mengalami peningkatan hingga 48% dalam 12-18 bulan ke depan. Adapun 30% lainnya menggunakan private cloud dan 27% memanfaatkan public cloud.

Survei juga menunjukkan bahwa kecil kemungkinan responden meningkatkan investasi baik di solusi private cloud maupun public cloud karena permintaan akan pendekatan hybrid yang lebih terintegrasi semakin menguat.

Saat ini, pemimpin TI mendambakan kemudahan dalam menghadapi lingkungan TI yang semakin kompleks untuk dikelola:

• Pemimpin TI masih harus mengelola aset TI tradisional untuk mendukung aplikasi yang sudah ada dan memenuhi kebutuhan compliance
• Inovasi cloud menyebabkan maraknya penggunaan aplikasi berbasis cloud. Terdapat sekitar 369 aplikasi yang digunakan oleh tiap organisasi di Indonesia (dibandingkan dengan Asia Pasifik yang memiliki rata-rata 340 aplikasi). Oleh karena itu, dibutuhkan alat yang kuat untuk mengelolanya
• Pemimpin TI dituntut untuk memberikan perhatian di berbagai bidang. Mereka menghabiskan sekitar 51% dari waktu mereka untuk memelihara infrastruktur, memenuhi compliance, serta menyelesaikan masalah operasional; 24% waktu untuk mengembangkan kemampuan digital generasi berikutnya; dan 25% waktu untuk kepemimpinan bisnis, khususnya pada inisiatif transformasi digital.
• Terkait dengan transformasi digital, responden di Indonesia menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengoptimalkan kegiatan operasional dibandingkan menarik pelanggan, memberdayakan karyawan, ataupun berinovasi dengan produk, jasa, serta model bisnis baru
• Para responden mengkhawatirkan kesenjangan keterampilan dalam organisasi mereka. Mengutip jawaban responden, tiga keterampilan yang paling dibutuhkan ada di bidang keamanan (59%), manajemen aplikasi komputasi awan (57%), dan analisis data (37%).
•Keamanan terus menjadi perhatian di dunia yang mengalami peningkatan ancaman siber setiap harinya. Tiga alasan utama yang menjadi kekhawatiran responden antara lain:

1. Malware dan pencurian data oleh penjahat siber
2. Pencurian data oleh karyawan
3. ‘Shadow IT’, seperti solusi dan layanan yang dapat digunakan di luar kepemilikan, serta kontrol dari departemen TI

• Organisasi di Asia Pasifik rata-rata sudah menggunakan 40 produk keamanan

Di Indonesia, 85% dari responden setuju akan adanya kebutuhan untuk berinvestasi lebih banyak di bidang solusi dan jasa keamanan. Sementara itu, 78% menyetujui  adanya kebutuhan untuk mengurangi rumitnya pengelolaan portofolio solusi dan layanan keamanan TI.

Transformasi TI
Mengadopsi strategi hybrid cloud menjadi langkah lanjutan bagi organisasi yang ingin mengambil manfaat dari kemampuan teknologi komputasi awan yang modern, tetapi ingin tetap mengelola aset tradisional mereka. Saat ini, sebanyak 48% dari para pemimpin TI memprioritaskan hybrid cloud. Sembilan dari sepuluh responden mengatakan mereka akan memprioritaskan hybrid cloud yang terintegrasi dengan alat manajemen umum, baik di public maupun private cloud.

“Departemen TI memiliki tantangan berat untuk menyeimbangkan kebutuhan digital bisnis saat ini dan masa depan. Cloud memiliki sejumlah perangkat baru yang beragam, yang memungkinkan terbentuknya manajemen yang lebih baik, melahirkan aplikasi yang cerdas, serta melakukan analisis yang canggih. Hal ini memberikan kami kesempatan untuk berinovasi sembari meningkatkan efisiensi pada berbagai aspek, termasuk aspek biaya,” kata  Enterprise IT Architect & Information System Head, Serasi Autoraya Rizki Muhammad, kemarin.

Hasil survei ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar pemimpin TI di Indonesia masih memiliki pandangan tradisional terhadap komputasi awan. Meskipun 85% mengaku nyaman untuk menggunakan seluruh aplikasi bisnis mereka di public cloud, lebih dari setengah responden hanya menggunakannya untuk aplikasi mendasar seperti email dan aset online bagi pelanggan (website). Hanya 41% responden yang menggunakan cloud untuk pengembangan aplikasi dan operasi.

Cloud & Enterprise Business Group Lead, Microsoft Indonesia Yos Vincenzo menjelaskan terdapat empat area yang perlu ditingkatkan para pemimpin TI untuk mempercepat transformasi digital organisasi.

Pertama, manfaatkan alat-alat modern untuk mengelola peningkatan keamanan dan kompleksitas. Kedua, kuasai infrastruktur dengan alat manajemen piranti lunak yang mencakup public, private, dan multiple branded cloud.

Ketiga, berpindah lah ke hybrid cloud yang terintegrasi untuk mendapatkan manfaat terbaik dari public dan private cloud. Terakhir, tingkatkan beban kerja di cloud untuk berinovasi, mempersingkat waktu ke pasar, dan memaksimalkan potensi yang ditawarkan teknologi digital terbaru.  

Para pemimpin TI perlu memulai perencanaan perjalanan transformasi digital organisasi saat ini juga, dimulai dengan strategi hybrid cloud yang jelas. Dengan membawa model komputasi awan untuk bisnis, pemimpin TI dapat menambahkan skalabilitas dan fleksibilitas pada model mereka saat ini, tanpa mengorbankan aspek kontrol ataupun keamanan.

“Bagi sebagian besar bisnis, transisi ke bisnis digital dapat menjadi langkah yang penuh dengan tantangan karena warisan sistem dan prosesnya. Pemimpin TI harus memiliki urgensi untuk memulai perjalanan digital ini, atau siap menghadapi risiko terhadap gangguan. Microsoft berkomitmen untuk membantu pelanggan dalam memaksimalkan perjalanan digital mereka, terlepas dari ukuran dan anggarannya," katanya.

Microsoft memiliki sistem keamanan terpasang yang unik untuk semua layanan cloud dan infrastruktur hybrid secara terpadu di semua level – perangkat, aplikasi, dan infrastruktur. Komitmen Microsoft untuk memungkinkan transformasi digital adalah dengan menghadirkan Windows Server 2016 dan System Center 2016 di Indonesia.

• Windows Server 2016  adalah sistem operasi berbasis cloud yang mampu mendukung beban kerja organisasi saat ini, sembari memperkenalkan teknologi baru yang membuat perpindahan ke cloud menjadi lebih mudah dan aman – hal yang dibutuhkan untuk transisi bisnis digital. Windows Server 2016 menghadirkan inovasi seperti keamanan multi-layer untuk mencegah serangan siber dan mendeteksi kegiatan yang mencurigakan; komputasi berdasarkan piranti lunak, penyimpanan dan jaringan fitur oleh Azure; serta platform aplikasi berbasis cloud untuk menjalankan berbagai aplikasi, termasuk aplikasi cloud-native.

• System Center 2016 memudahkan organisasi untuk menyebarkan, mengkonfigurasi, dan mengelola software-defined datacenter serta infrastruktur hybrid cloud. System Center terbaru menawarkan berbagai kemampuan yang memperkuat kapabilitas untuk memenuhi tuntutan kebutuhan bisnis, memberikan dukungan mulai dari penyediaan infrastruktur fisik dan virtual, hingga proses TI dan manajemen pelayanan. Ketika dilengkapi dengan Operations Management Suite, organisasi akan dapat secara efektif menyederhanakan dan mengelola beberapa solusi cloud dari satu konsol saja.(wn)

Telkom Smart City
Artikel Terkait
telkom solution travel
More Stories
telkom smart city
telkom sigma
telkom DBS / liputan khusus
telkom solution travel