blanja

Platform digital belum optimal di sektor pariwisata

11:28:48 | 18 Dec 2016
telkom solution travel
Platform digital belum optimal di sektor pariwisata
ilustrasi
finnet KTM
telkomtelstra januari - maret
JAKARTA (IndoTelko) – Para  pelaku usaha di sektor pariwisata belum mengoptimalkan platform digital untuk meningkatkan daya saingnya.

Banyak pelaku usaha baru sebatas menggunakan platform digital, khususnya media sosial, hanya untuk pemasaran. Belum ke tahap eksekusi hingga menyediakan pembayaran bagi pelanggan.

Hal itu terlihat kala Kementrian Pariwisata (Kemenpar) melakukan workshop Go Digital di Aula Kantor Telkom, Jl Dr Sutomo, Banyuwangi belum lama ini. Sekitar 100 pelaku industri menyimak serius paparan yang disampaikan narasumber dari Kemenpar.

Ketua Probis Indonesia Travel Xchange (ITX market) Claudia Ingkiriwang  mengungkapkan para peserta diskusi sebagian memiliki website sendiri dan 100% memiliki akun di media sosial untuk memasarkan produk. Namun,  banyak yang belum dilengkapi di sisi commerce, seperti booking system dan payment engine.

“ITX di hadirkan untuk mendukung website template yang sudah ready commerce, booking system dan payment gateway secara free alias gratis,” ungkap Claudia seperti  dikutip dari laman Kemenpar (18/12).

Menurut Claudia, jika pelaku usaha di pariwisata baru  memiliki website, tapi belum ada fasilitas book dan pay dalam satu platform,  masih belum masuk kategori go digital. “Mereka baru berpromosi atau marketing secara online, tetapi transaksi bisnisnya masih offline. Go Digital, mensyaratkan semua tahapan dari look, book, pay sudah terhubung secara online, bisa dengan diproses dengan smartphone, bisa juga dengan personal computer,” katanya.

Dikatakannya, Kemenpar membangun Digital Market Place, khusus industri pariwisata yang mempertemukan sellers dan buyers ke dalam satu platform atau mall digital. “Tugas kami membantu mendigitalisasi industri wisata, dari booking awal, sampai transaksi pembayaran,” katanya.

Varian layanan
Diungkapkannya, varian layanan dan produk bisa masuk ke ITX Market mengingatk konsep yang diusung adalah marketplace. Pelaku UMKM pun didorong bergabung di marketplace ini.

“Unsurnya 3A, industri Atraksi, Akses dan Amenitas, semua harus ada. Atraksi misalnya pengelola theme park, tempat wisata, taman bermain, dan lainnya. Akses, seperti rent car (persewaan mobil), diskon ticketing airlines, diskon khusus kapal penyeberangan, dan lainnya. Amenitas seperti hotel, resort, homestay, dan glamping, dan lainnya,” tuturnya.

Misalnya, jika yang ingin bergabung adalah Kelompok Sadar Pariwisata (Pokdarwis), maka  harus punya AD/ART dan  yang mendaftar adalah pengurusnya, untuk semua anggotanya. Nanti, pengurusnya yang diberi booking dan payment system, dan website yang ready commerce. Anggotanya sebagai produk.

“Bergabung di ITX harus jelas penanggungjawab, siapa yang handle, siapa yang registrasi, dan yang menjalankan bisnis itu memiliki komitmen dalam services. Karena dalam bisnis services seperti pariwisata ini, kepercayaan itu harus dijaga dan mahal harganya,” jawab Claudia.

Tak hanya itu, di Indonesia Travel Xchange juga diijinkan produk berbau pariwisata bergabung, tak melulu berjualan jasa. “Orang berwisata, tidak hanya melihat keindahan alam (nature). Juga tidak hanya mencari pengalaman dari budaya (culture) dan manmade (event buatan orang). Tetapi juga melihat proses, mencari pengalaman yang tidak semua orang bisa menjalaninya. Itu bisa menjadi atraksi pariwisata,” katanya.  

Diingatkannya, ITX itu bukan front end, tetapi back end. Tidak kelihatan. ITX itu hanya platform yang memudahkan pelaku bisnis untuk memproleh akses di pasar dunia. ITX itu B to B, business to business, bukan masuk ke B to C. Yang memasarkan adalah masing-masing website industri, sebaiah front end. “Makin kreatif pelaku industri, makin kuat potensi diterima pasar,” tutupnya.(id)

Telkom Smart City
Artikel Terkait
telkom solution travel
Lifestyle-Roaming-Costs-v2.jpg
More Stories
telkom smart city
telkom sigma
telkom DBS / liputan khusus
kerjasama CSI
kerjasama CSI